Siapa Pelaku Penyebar Hoax Tsunami Di Nabire ?

Hampir sepekan, warga Nabire diterpa isu tidak benar atau Hoax mengenai akan terjadinya Tsunami. Kabar tidak benar tersebut terjadi secara masif, mengakibatkan banyak warga Nabire yang was-was bahkan tidak sedikit yang memilih mengungsi ke tempat aman.

BMKG Nabire melalui Kepala Geofisika, Simon Rumy, telah memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus mengklarifikasi informasi yang mendompleng kabar hoax tsunami tentang surutnya air laut, yang sebenarnya terjadi karena gravitasi bulan.

Akibat informasi tidak benar tersebut, banyak warga Nabire yang percaya dan memilih mengungsi mencari tempat yang aman. Sebagian bahkan sudah diingatkan agar tidak mengungsi, namun karena terlanjur takut, warga tetap bersikeras mengungsi.

Namun yang menjadi pertanyaan, siapa penyebar hoax yang meresahkan warga Nabire saat itu ?

Siapa Penyebar Hoax Tsunami Di Nabire ?

Dari hasil penelusuran Nabire.Net, kabar mengenai akan adanya tsunami mulai tersebar sebelum pukul 22.00 Wit, pada hari Jumat (09/11). Pergerakan warga yang mulai mengungsi terlihat setelahnya.

Salah seorang warga Gebang Sadu, Christian Zonggonau, mengatakan, ungsian warga yang melewati wilayah Gerbang Sadu cukup banyak. Ada yang menggunakan kendaraan pribadi, menumpang mobil, bahkan berjalan kaki. Hingga dini hari masih ada sejumlah warga yang memilih mengungsi.

Dari informasi awal bahwa akan terjadi tsunami mulai berkembang dan membias di kalangan warga, seperti isu akan terjadi tsunami pada pukul 02.00 Wit pada hari sabtu dini hari (10/11).

Selain itu, kabar akan terjadinya tsunami diperkuat dengan pengamatan warga Nabire di wilayah pesisir pantai yang melihat bahwa telah terjadi air surut (meti). Hal inilah yang mengakibatkan semakin banyak warga yang mengungsi dari wilayah pesisir pantai.

Isu hoax tsunami telah menebar keresahan dan ketakutan bagi warga Nabire. Namun hingga saat ini, belum diketahui siapa penyebar informasi hoax tersebut.

Nabire.Net sudah mencoba menanyakan hal ini kepada pihak kepolisian, apakah pihak kepolisian sudah mengantongi siapa pelaku penyebar hoax tsunami di Nabire.

Namun menurut informasi dari Humas Polres Nabire, hingga saat ini belum diketahui siapa penyebar hoax tsunami tersebut.

Pertanyaan yang sama diajukan kepada Kasat Reskrim Polres Nabire, AKP Komang Yustrio W. K S.Ik. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada respon dari Kasat Reskrim.

Ketika menanyakan hal yang sama kepada Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol A.M Kamal, ia meminta agar hal tersebut bisa ditanyakan langsung ke Polres Nabire.

Dengan demikian, hingga saat ini siapa sosok yang paling bertanggungjawab atas penyebaran kabar hoax tsunami di Nabire belum diketahui, padahal keresahan yang ditimbulkan akibat perbuatannya sangat besar.

Jerat Hukum Bagi Pelaku Penyebar Hoax

Pelaku penyebar informasi hoax bisa dijerat Pasal 14 atau Pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946, atau Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jika kabar hoax yang disebarkan berupa informasi elektronik atau dokumen elektronik, seperti melalui Facebook, Whatsapp atau media sosial lainnya.

Pasal 14 UU Nomor 1 tahun 1946 :

Ayat (1) berbunyi, ‘barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

Ayat (2), ‘barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.’

Sementara Pasal 15 berbunyi, ‘barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun.

Pasal 28 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) :

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Pasal 45 atau 2 UU ITE berbunyi setiap orang yang memenuhi unsur yang dimaksud dalam pasal 28 ayat 1 atau ayat 2 maka dipidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Warga Nabire Desak Kepolisian Ungkap Pelaku Penyebar Hoax Tsunami

Warga berharap pihak kepolisian di Nabire tidak membiarkan kasus ini menguap begitu saja, tetapi bisa mengungkap siapa penyebar informasi hoax tsunami di Nabire sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku, dan pelaku dapat dihukum sesuai UU yang berlaku karena perbuatannya telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

[Nabire.Net]


Silahkan Komentar

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] monkey emoticons by andreasandre Modified from nartzco source code.