Sekelumit Tentang Lembah Baliem

(Lembah Baliem Papua)

Jayawijaya – Lembah Baliem, Papua merupakan salah satu daerah tujuan wisata baik bagi para wisatawan asing maupun domestik yang menyukai panorama alam, wisata pegunungan, trekking, wisata budaya, wisata petualangan dan wisata etnik.

Suku Dani sebagai penduduk Lembah Baliem sangat terbuka terhadap wisatawan baik asing maupun domestik, tetapi alangkah baiknya para wisatawan memperhatikan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehingga tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan itu sendiri.

Wisatawan yang berkunjung ke Lembah Baliem wajib menghormati adat istiadat Suku Dani. Sangat dianjurkan membawa rokok atau permen jika sewaktu-waktu ada warga lokal mengajukan permintaan “sebatang rokok”. Hal ini biasa dilakukan sebagai wujud rasa kebersamaan dan saling menghormati antar sesama, bukan menagih atau meminta-minta.

Bagi yang tidak merokok, kita bisa memberikan permen sebagai gantinya rokok. Dianjurkan membawa jaket tebal, payung atau jas hujan karena suhu udara sering berubah-ubah dan curah hujan yang cukup tinggi. Bawalah dokumen resmi (identitas diri atau paspor bagi wisatawan asing) selama perjalanan.

Hal yang tidak boleh dilakukan selama berwisata ke Lembah Baliem yaitu jangan menunjukkan sikap tidak hormat atau menertawakan masyarakat yang masih menggunakan pakaian tradisional (adat istiadat) setempat. Bagi wisatawan pecinta trekking, dilarang menerobos pemukiman atau halaman rumah orang yang ada tanda larangan (silo), tidak boleh membakar sampah bekas bungkus makanan sembarangan, tidak boleh mengambil tanaman, buah atau hewan tanpa seijin warga sekitar.

Bagi wisatawan yang ingin mengambil gambar foto atau berpose bersama warga masyarakat lokal yang menggunakan pakaian tradisional, sebaiknya minta ijin terlebih dulu atau melakukan pembicaraan atau kesepakatan bersama, sebab masyarakat lokal yang sedang menggunakan pakaian tradisional baik di lokasi wisata atau tempat-tempat tertentu akan meminta imbalan uang sebagai wujud kepemilikan harga diri yang tinggi.

Sebaiknya berhati-hati dengan hewan peliharaan masyarakat setempat seperti babi atau anjing, karena hewan-hewan tersebut memiliki nilai budaya dan bernilai tinggi. Jika terlindas kendaraan tanpa sengaja, maka wisatawan bisa dituntut dengan denda uang ganti rugi yang tinggi.

Selain itu sebaiknya hindarilah jika bertemu dengan orang mabuk. Saat trekking, sebaiknya tidak membawa uang tunai dalam jumlah besar. Bagi wisatawan asing setiba di Kota Wamena, terlebih dahulu harus melapor ke polres Jayawijaya dan selama berwisata di Lembah Baliem harus didampingi oleh travel agent.

Lembah Baliem Memiliki Nama Shangri-La

Ternyata Lembah Baliem, Papua memiliki nama Shangri-la. Penamaan ini bermula ketika pesawat terbang Amerika pada 1944 melintas di atas Papua, secara tidak sengaja pilot Amerika menemukan Lembah Baliem.

Lembah ini sangat indah dari ketinggian. Tampak dari jendela pesawat, kebun ubi jalar dikelilingi oleh pagar yang tertata rapi, pria dan wanita suku Dani dengan pakaian tradisional bekerja rajin di kebun, dan perkampungan dengan rumah tradisional honai yamg sangat khas dan natural.

Kecantikan serta panorama eksotis lembah yang tersembunyi ini membuatnya dijuluki oleh Amerika sebagai Shangri-la atau sebuah surga di bumi dalam dunia dongeng.

Nama Shangri-la sendiri terambil dari novel terbitan tahun 1933 karya James Hilton. Nama ini dipergunakan untuk menggambarkan suatu tempat khayalan yang sangat terpencil namun berpanorama luar biasa indah.

Tak lama sesudah peristiwa penemuan Lembah Baliem tersebut, pasukan Amerika yang cuti tugas, untuk menghilangkan stres karena peperangan melawan pasukan Jepang di Pasifik tak juga kunjung dimenangkan.

Baik tentara Amerika laki-laki maupun wanita, kemudian diajak bertamasya dengan pesawat ke Lembah Baliem. Tamasya ini berakhir tragis karena satu pesawat terjatuh sebelum mencapai tujuan, penumpangnya tewas, kecuali dua orang tentara laki-laki dan seorang tentara wanita yang selamat.

Usaha evakuasi para korban ini bukanlah hal yang mudah karena pada waktu itu belum ada sama sekali landasan pesawat terbang di Lembah Baliem, sehingga dibutuhkan pesawat layang. Suku Dani dengan pakaian kotekanya yang berada di lokasi penyelamatan, bersikap ramah dan tak tampak sedikitpun sikap permusuhan dengan orang asing berkulit putih ini.

Para anggota tim penyelamat menganggap keeksotisan Lembah Baliem sebagai suatu fenomena yang menarik layaknya dalam suatu lukisan. Kisah penyelamatan pasukan Amerika di Lembah Baliem ini menjadi viral di dunia saat itu.

[Nabire.Net/Hari Suroto]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *