Rapid Test Kolaborasi Covid/HIV/Malaria Kepada 563 Orang Di Nabire, 57 Reaktif, 6 HIV, 19 Malaria

(ilustrasi Rapid Test)



Nabire – Bertempat di Guest House Jalan Merdeka Nabire, telah dilakukan pemeriksaan Rapid Test Covid-19 kolaborasi HIV dan Malaria, senin (01/06).

Rapid test ini diikuti oleh 563 orang yang terdiri dari kalangan TNI/Polri, perusahaan transportasi, perbankan, dosen, mahasiswa, sopir Pertamina, Tokoh Masyarakat, anggota DPRD Nabire, pegawai Bandara Nabire, LSM, masyarakat dari Puncak Jaya, Paniai, Waropen, Serui dan Intan Jaya.

Dari hasil pemeriksaan Rapid Test terhadap 563 orang tersebut, 57 orang diantaranya dinyatakan Reaktif (R) Covid-19, kemudian 506 orang lainnya dinyatakan Non Reaktif (NR).

Sementara dari 563 orang tersebut, 6 orang diantaranya dinyatakan positif HIV. Sementara 19 orang lainnya dinyatakan mengidap penyakit malaria.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 kabupaten Nabire, dr. Frans Sayori, M.Kes, saat dihubungi Nabire.Net, senin malam (01/06).

Dokter Sayori menjelaskan, untuk 57 orang yang dinyatakan Reaktif pada rapid test tersebut selanjutnya akan mengikuti Swab Test, dan direncanakan total yang mengikuti swab test sebanyak 71 orang.

“Kalau sudah R maka lanjut swab, 57 orang reaktif hari ini akan ditambah dengan 9 orang yang baru-baru ini mengikuti rapid test, ditambah lagi hasil Rapid Test dari Intan Jaya yang tadi baru masuk 5, jadi persiapan untuk swab test total sebanyak 71 orang,” kata Dokter Sayori.

Sementara untuk jadwal pelaksanaan swab test akan dijadwalkan oleh pihak Rumah Sakit Umum Nabire.

“Untuk swab test, kita harus koordinasi terlebih dahulu dengan lab rumah sakit, tentunya mereka akan menyiapkan jadwal pemeriksaan swab test,”, kata Dokter Sayori.

Sementara bagi pasien yang positif HIV, dijelaskan dokter Sayori, penanganan bagi mereka masih seperti biasanya karena hal itu merupakan program lama.

“Tindak lanjutnya sama, karena ini program lama, mereka akan dikonseling, lalu pengobatan di Puskesmas sesuai domisili. Cuma pemeriksaannya saja tadi yang dikolaborasi. Itu perintah Presiden bahwa jangan sampai karena Covid-19 lalu penyakit lain dilupakan, apalagi angka HIV di Nabire tertinggi di Papua,” katanya.

Disamping itu, untuk malaria, Dinkes Nabire juga terus berupaya untuk menuju eliminasi. Kata dokter Sayori, pihaknya mendapat apresiasi dari provinsi karena bisa melakukan tes kolaborasi seperti ini, sehingga program semuanya bisa berjalan, dan Nabire bisa bebas dari semua penyakit.

[Nabire.Net]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *