Potret Anak Jalanan Di Nabire, Adakah Upaya Serius Untuk Menolong Mereka ?

(Potret keberadaan anak-anak jalanan yang dibina di Rumah Singgah Pemulihan Generasi Emas Nabire)

Nabire – Anak jalanan merupakan gejala sosial yang muncul akibat krisis di berbagai bidang. Kondisi tersebut mengharuskan mereka menghabiskan sebagian besar hidup dan masa depannya di jalanan.

Keberadaan anak jalanan semakin marak dan mudah dijumpai di berbagai sudut di kota Nabire. Selain menjadi anak jalanan, anak-anak ini rentan untuk melakukan hal-hal negatif seperti ngelem, mabuk, bahkan melakukan tindakan kriminal.

Hal ini diakui oleh Amos Yeninar, pengasuh anak-anak jalanan di Nabire, yang membina mereka dalam Rumah Singgah Pemulihan Gemerasi Emas Papua, Yayasan Siloam Papua.

Amos menuturkan, anal-anak yang ia bina menghabiskan waktunya di terminal, jalanan, dan kebiasaan menghisap lem sudah menjadi hal yang sulit dipisahkan bagi mereka.

Lem diibaratkan sudah seperti narkoba bagi mereka. Bahkan mereka rela berbuat apa saja agar jangan dipisahkan dari aktivitas ngelem.

Ia memberi contoh saat akan mengadakan kegiatan Camping Paskah beberapa waktu lalu. Ada anak yang rela mengikuti Camping Paskah, asalkan ia tetap bisa menikmati lem (ngelem). Hal ini tentu sudah sangat mengkhawatirkan.

Persoalan anak jalanan memang bukanlah persoalan yang sederhana untuk dicarikan solusinya. Butuh upaya serius dari berbagai pihak.

Peran Orangtua

Peran pertama harus berasal dari orangtua atau keluarga sang anak. Jangan sampai orangtua baru sadar ketika keselamatan anaknya terancam akibat menjadi anak jalanan.

Menghabiskan waktu paling banyak bersama orangtuanya (selain di sekolah), harus dimanfaatkan oleh orangtua untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya. Apalagi anak adalah titipan Tuhan, maka sudah seharusnya mereka tak boleh diabaikan oleh orangtuanya.

Orang tua perlu mendorong anak untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sosialnya, tetapi tetap sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Hal penting yang perlu diingat adalah orang tua tidak bisa mendidik tanpa memberikan dasar pada anak. Artinya, orang tua harus memastikan sang anak mengerti mengapa ia mendapat didikan tersebut.

Selain itu yang paling utama, orangtua sendiri harus bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. Apalah artinya jika orangtua menuntut anaknya menjadi anak yang baik, tapi hal tersebut justru tidak dilakukan oleh orangtuanya sendiri.

Peran Lembaga Agama Maupun Pemuka Agama

Selain peran orangtua maupun keluarga, peran agama sangat penting bagi anak-anak jalanan. Berbicara mengenai agama, tentu tak lepas dari peran lembaga agama maupun pemuka agama.

Lembaga agama maupun pemuka agama harus hadir bagi anak-anak jalanan, untuk mengenalkan mereka kepada Tuhan. Hal tersebut memang tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran serta niat untuk mengasihi dan merangkul mereka. Namun itulah inti dari sebuah pelayanan.

Lembaga agama maupun pemuka agama juga harus senantiasa hadir bersama anak-anak jalanan maupun pecandu lem. Kehadiran secara langsung bagi mereka tentu akan sangat berarti bagi anak-anak tersebut.

Disamping itu,  Lembaga agama maupun pemuka agama bisa menjadi inisiator untuk mengajak pihak lain baik keluarga maupun pemerintah untuk bersama-sama berperan dalam membantu memulihkan anak-anak tersebut.

Peran Pemerintah Maupun Swasta”

“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” – UUD 1945, Pasar 34 Ayat 1

Kehadiran pemerintah maupun pihak-pihak lainnya seperti LSM, Yayasan dan lain sebagainya sangat dibutuhkan untuk merangkul para pecandu lem maupun anak jalanan yang ada di Nabire.

Pemerintah harus hadir membina mereka, memberdayakan mereka, sehingga mereka bisa lepas dari jeratan bahaya ngelem maupun aktivitas liar sebagai anak jalanan.

Perhatian kepada anak jalanan juga bisa dengan menghadirkan rumah singgah yang dapat menjadi tempat pembinaan dan konseling bagi mereka

Selain itu pemerintah harus mengupayakan agar mereka bisa kembali mendapatkan pendidikan yang merupakan hak mereka.

Upaya Semua Pihak

Anak-anak jalanan adalah bagian dari kita. Mereka butuh bantuan dari kita untuk menyelamatkan masa depan mereka.

Beberapa upaya ini bisa menjadi upaya dalam menangani persoalan anak-anak pecandu lem maupun anak terlantar :

1. Mengidentifikasi akar permasalahan guna menyelesaikan masalah anak terlantar dengan menyentuh sumber permasalahannya.

2. Memberikan perlindungan kepada anak tanpa terkecuali. Undang-undang dasar nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga mengamanatkan bahwa perlindungan anak sangat penting dilakukan dengan tujuan untuk menjamin hak-hak bagi anak agar dapat hidup terpenuhi,hak untuk berkembang, serta untuk berpartisipasi secara maksimal sesuai dengan harkat serta martabat kemanusiaan, dan berhak memperoleh perlindungan dari diskriminasi dan kekerasan,agar dapat mewujudkan anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

3. Menciptakan program-program yang responsive terhadap perkembangan anak, termasuk anak-anak jalanan.

4. Membangun kesadaran bersama bahwa masalah anak terlantar sesungguhnya merupakan suatu tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat, keluarga, serta orang tua.

[Nabire.Net]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *