Polemik Ijazah PGSD Uncen Nabire, Ini Penjelasan Pihak Kampus

(UPP PGSD S1 Universitas Cenderawasih Nabire)

Nabire – Sejumlah mahasiswa UPP PGSD S1 Universitas Cenderawasih Nabire yang telah diwisuda, mempertanyakan ijazah mereka yang sejak tahun lalu belum diterima hingga saat ini. Mereka kemudian menggelar aksi demo di kampus.

Berkaitan dengan aksi tersebut, Nabire.Net, mencoba meminta keterangan dari Ketua UPP FKIP Uncen PGSD Kampus Nabire, Fransiscus Don Bosco Johanes S.Pt MMPd, rabu sore (29/07).

Kepada Nabire.Net, Fransiscus menjelaskan bahwa persoalan tersebut karena adanya perbedaan data keuangan yang dikirim pihaknya dengan data keuangan dari Universitas.

Fransiscus Don Bosco kemudian menceritakan kronologis timbulnya persoalan ini. Dijelaskan, saat mahasiswa PGSD Uncen Nabire telah memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan (PGSD) beberapa proses yang harus dilalui antara lain Yudicium kelulusan sebagai Sarjana Pendidikan dan sebelum Yudicium mereka harus melengkapi berbagai persyaratan baik persyaratan terkait adiministrasi akademik maupun administrasi keuangan dan selanjutnya mereka diwisuda sebagai seorang sarjana pendidikan.

“Kemudian setelah acara wisuda, dosen saya atas nama Anni F. Fonataba, S.Pd. M.Si dan Mikhael Romi Angely, S.Pd. mengambil ijazah yang sudah ada di BAAK Universitas, namun pada saat mereka sortir untuk melihat kebenaran tentang data pada ijazah, tiba-tiba Kepala Biro menarik ijazah dari dosen saya,” katanya.

Lebih lanjut Fransiscus Don Bosco menuturkan, bahwa kedua dosen tersebut bertanya kepada Kepala Biro mengapa demikian, dijelaskan Ka.Biro bahwa mahasiswa belum melunasi SPP.

Kemudian Ka.Biro mendapat penjelasan bahwa kampus telah menyerahkan semua bukti penyetoran biaya dan administrasi lainnya kepada Bagian Akademik FKIP Uncen atas nama Bapak Yoyo, dan hal itu telah terkonfirmasi.

Kemudian dilakukan pengecekan kepada Bagian Akademik Uncen atas nama Bapak Sunaryo, namun pak Sunaryo sampaikan bahwa pak Yoyo belum serahkan data (berkas persyratan Yudicium, termasuk data keuangan) kepadanya. Rasa-rasanya kami seperti dipimpong ke sana ke mari.

“Selanjutnya kami kontak per telp kepada pak Yoyo dan PD I FKIP ( Pak Wabiser) terkait masalah ijazah ini, tetapi ternyata sampai 3 hari Ibu Anni stay di Jayapura, setiap hari telp/WA, tidak ada jawaban/respon balik dan akhirnya teman saya pulang tanpa membawa Ijazah. Tidak sampai di situ, setelah kembali ke Nabire, kami siapkan dan kirim kembali data keuangan (diperkirakan Oktober 2019) seperti yang telah diperdebatkan oleh Kepala Biro, namun ternyata Ka. Biro sampaikan bahwa datanya masih tetap sama seperti yang lalu,” imbuh Fransiskus.

“Atas penyampaian Ka. Biro terkait data yang kami kirim untuk yang kedua kalinya, kami sampaikan bahwa kami tidak punya data lain terkait keuangan mahasiswa kecuali ini, karena setelah mahasiswa mengumpulkan slip pengiriman, mereka kumpul kepada pihak kampus kemudian direkap oleh bendahara UPP PGSD S-1 Kab. Nabire,” lanjutnya.

“Tidak puas terhadap perdebatan itu, pada bulan November 2019 saya sendiri membawa kembali data yang sama, dan bertemu dengan Ka. Biro Uncen, saya sampaikan tujuan kedatangan saya, jawaban yang sama Ka.Biro sampaikan kepada saya sembari beliau menunjukan data yang sangat berbeda dengan data yang kami kirim. Saya masih bermohon dan tetap mempertahankan data yang saya bawa, tetapi Ka.Biro tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikan ijazah. Akhirnya saya membawa data yg sudah dicek oleh Ka. Biro dan kami teruskan melalui WA group kepada mahasiswa, dan sejak itu mahasiswa menanyakan perihal ijazah mereka,” urai Don Bosco.

Ia mengatakan, pertanyaan mahasiswa terkait ijazah, diteruskan kepada pihak FKIP Uncen berulang kali. Di bulan Januari 2020, bidang akademik dan bendahara UPP PGSD S-1 Uncen Kab. Nabire berencana berangkat ke Jayapura untuk mengklarifikasi data keuangan yang ada, tetapi orang-orang yang berkompeten dengan hal tersebut sedang berada di Jogja selama 10 hari, sehingga koordinasi hanya dilakukan lewat handphone.

“Pada saat PD I FKIP datang ke Nabire pada bulan Februari 2020, kami sampaikan kepada beliau dan beliau berjanji akan menyelesaikan persoalan ijazah dimaksud dan ternyata belum juga membuahkan hasil hingga pada akhirnya pada hari Jumat, 24 Juli 2020, mahasiswa melakukan aksi demo di Kampus UPP/KPG dan berakhir dengan dialog dengan PD I FKIP dengan aspirasi supaya mereka harus menerima ijazah pada tgl 30 Juli 2020, kemudian mereka masih belum puas, mereka kembali mendatangi kampus dan tetap dengan aspirasi yang sama bahwa mereka harus menerima ijazah pada tanggal 30 Juli 2020, dan diakhiri dengan penyampaian tuntutan secara tertulis kepada pihak kampus (FKIP) Uncen yg isinya tentang penyelesaian ijazah, beber Fransiskus Don Bosco”.

Pada hari Minggu, 26 Juli 2020, pukul 14.00 WIT, dilakukan pertemuan bersama antara mahasiswa dengan pihak kampus yang diprakarsai oleh Kapolsek Nabire Barat di Polsek Nabar, dengan keputusan bahwa mahasiswa tetap meminta supaya ijazah tetap diterima pada tanggal 30 Juli 2020 dan kebijakan pihak kampus UPP Nabire adalah jika pihak Uncen masih permasalahkan tentang data keuangan, maka itu bukan urusan mahasiswa lagi atau itu menjadi tanggung jawab pihak kampus. Pihak Kepolisian Nabire Barat (Kapolsek menyarankan agar perwakilan mahasiswa dan pengelola UPP berangkat ke Uncen Jayapura untuk mengklarifikasi dan berusaha untuk mengambil ijazah di Uncen.

“Pihak pengelola tidak punya pilihan lain karena mau berangkat membutuhkan proses perijinan dan juga keterbatasan moda transportasi ke Jayapura, tetapi pada saat sedang melaksanan rapat di Polsek Nabar, dengan pertolongan Tuhan saya mendapatkan nomor hp Rektor Uncen. Selesai rapat kami kembali ke kampus UPP, pukul 15.30 WIT saya WA pribadi kepada Rektor dan puji Tuhan pukul 16.30 WIT Rektor telepon saya dan beliau akan memanggil Ka.Biro dan Dekan FKIP pada tanggal 27 Juli,” ujarnya.

Kemudian pada tanggal 27 Juli 2020, diperoleh kabar bahwa data keuangan UPP Nabire tidak bermasalah, namun persoalan ada di pihak Universitas yang akan ditelusuri pola pembayarannya, seakan-akan mahasiswa terbagi dua, separuhnya membayar SPP pada semester ganjil dan separuh lainnya membayar pada semester genap.

“Lalu saya sampaikan kok begitu pak? Ka.Biro sampaikan, itulah kenyataannya pak. lanjut Ka.Biro sampaikan, ijazah Alumni sudah siap dan Pak Ketua UPP (Frans.Don Bosco J./saya sendiri) membuat pernyataan yang isinya bahwa pihak Pengelola UPP siap berkooperatif dan bertanggungjawab serta dapat memberikan data yang benar untuk mengusut persoalan keuangan di atas. Lebih lanjut saya sampaikan bahwa pada tanggal 30 Juli 2020 ijazah alumni harus sampai di tangan mereka.

Pada hari Senin, 27 Juli 2020 juga kami minta ijin pak Setda untuk memberangkatkan 2 orang Dosen dan Korlap/petwakilan alumni ke Jayapura dengan menggunakan KM. Sabuk Nusantara 64 untuk menjemput ijazah di Pelabuhan Jayapura, namun ternyata setelah kami tanya Kadis Perhubungan kapal tidak langsung balik ke Nabire, dari Jayapura ke Biak dan Stay di Biak, yang tentunya lebih lama lagi baru tiba Nabire, sementara tuntutan Alumni tanggal 30 Juli 2020.

“Namun sebelum kami putuskan agar teman-teman lanjut ke Jayapura atau tidak, kami menelepon Ka.Biro dan Ka.Biro berjanji untuk mengirim ijazah secepatnya jika Ppenerbangan (Cassa/Hercules) dari Jayapura ke Nabire ada. Untuk itu, sejak hari Senin malam kami berupaya untuk mencari info terkait Penerbangan Jayapura-Nabire. Menurut Tim Gugus Covid-19 (Bpk.Viktor) bahwa jadwal Hercules Senin dan Selasa, dan kami terus cari info ke Kodim Nabire, (ibu Agustin Simorangkir) memberi info kalau bukan hari Kamis mungkin tanggal 2 Hercules berangkat dari Jayapura dan ibu Agustin Simorangkir memberikan nomor hp yang dihubungi di Jayapura (pak Hopni/Anggota Perwakilan Kodim Nabire di Jayapura) dan nomor itu yang bisa dihubungi oleh pak Uncen (FKIP/atas nama pak Yoyo),” urai Fransiscus Don Bosco.

“Informasi dari pak Yoyo melalui ibu Anni F. Fonataba, S.Pd. M.Si bahwa tadi sore pak Yoyo hubungi pak Hopni (anggota Perwakilan Kodim Nabire di Jayapura) bahwa belum ada penerbangan ke Nabire, nanti beliau (pak Hopni) yg akan mengambilnya ke pak Yoyo (kebetulan tidak berjauhan). Dengan demikian bahwa sampai saat ini ijazah masih dalam proses pengiriman. Semoga semua lancar dan informasi ini terus diinformasikan (oleh ibu Anni kepada Korlap aksi ( Aprilia Kristin Inden, S.Pd.). Rencana besok akan diadakan pertemuan (alumni dan pengelola) , kamis (30/07),” pungkas Ketua UPP FKIP Uncen PGSD Kampus Nabire, Fransiscus Don Bosco Johanes S.Pt MMPd.

[Nabire.Net]


One Response to Polemik Ijazah PGSD Uncen Nabire, Ini Penjelasan Pihak Kampus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *