Perlunya Pendidikan Non Formal Untuk Memberdayakan Perempuan Di Papua

(Dok.Kursus Menjahit)

(Dok.Kursus Menjahit)

Nabire – Dalam rangka menciptakan generasi muda melalui Gereja Katolik, didirikan Pusat Belajar Wanita (PBW), Sekolah Kepandaian Putri (SKP) dan Sanggar Kegiatan Belajar. Demikian halnya dengan gereja dari denominasi lain dengan namanya sendiri, seperti di GKI ada Pisat Pembinaan Pengembangan Wanita (P3W) GKI Padang Bulang.

Di tempat-tempat seperti inilah, kaum perempuan dididik untuk memiliki ketrampilan dan pengetahuan seperti menjahit, memasak, mengasuh anak dan masih banyak lagi, dengan harapan mereka akan menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri, dan menjadi bekal saat sudah berumah tangga.

Pola pendidikan seperti ini seharusnya bisa kembali diterapkan dan dikembangkan saat ini dalam rangka pemberdayaan kaum perempuan diluar lembaga pendidikan formal. Selain itu, pola seperti ini dimungkinkan akan berjalan dengan baik di kampung-kampung.

Diharapkan kedepannya hal ini bisa menjadi perhatian kita semua agar kaum perempuan benar-benar mandiri bukan tergantung suaminya. Pendidikan karakter akan tertanam baik jika perempuan dibina dengan baik juga dengan pembinaan iman kepada perempuan.

Pemerintah hari ini semestinya memikirkan kembali pola pendidikan seperti ini, dengan materi materi yang sesuai dengan perkembangan jaman tetapi juga materi yang pernah diberikan oleh para suster dahulu, ini agar kita dapat menghasilkan generasi yang handal untuk 20 tahun mendatang.

*Penulis : Anggota DPR Papua, John N.R Gobai

[Nabire.Net]


One Response to Perlunya Pendidikan Non Formal Untuk Memberdayakan Perempuan Di Papua

  1. Theresia Lien berkata:

    Di Asrama Putri Hasrat Suci Mandiri Nabire, bersama nene J.J Rumadas, kami melakukannya sejak tiga tahun lalu, setiap liburan tahun ajaran baru,setiap anak belajar menjahit dsb,selama sebulan.
    Tetapi kali ini, sejak awal Juni kami memualai dgn metode baru,setiap hari kerja,sebagai ekstra kurikuler di Asrama, akan fokus dan rutin selama 6 bulan dn akan mengevaliasi kemahiran para putri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *