Peneliti BMKG Perkirakan Salju Abadi Di Pegunungan Jayawijaya Akan Lenyap Pada 2025-2030

Pegunungan Jayawijaya adalah rangkaian pegunungan tertinggi di Indonesia yang membujur di Provinsi Papua, dengan puncak tertingginya yaitu Puncak Jaya (4.884 meter dari permukaan laut). Di puncak pegunungan Jayawijaya terdapat salju abadi yang jumlahnya semakin menipis akibat pemanasan global. Selain Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya memiliki beberapa puncak lain yang lebih rendah, yaitu Puncak Mandala, Puncak Trikora, Puncak Idenberg, Puncak Yamin dan Puncak Carstenz Timur (Wikipedia).

Namun sejumlah pihak memperkirakan kemungkinan besar salju abadi yang berada di Pegunungan Jayawijaya tersebut akan lenyap akibat pemanasan global.

Salah satu pihak yang mengemukakan hal ini adalah Peneliti Madya, Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Donaldi Sukma, seperti dilansir dari Detik, Rabu (14/11).

Donaldi mengatakan, Es abadi di puncak Pegunungan Jayawijaya diperkirakan akan benar-benar hilang pada periode 2025-2030, bila dilihat dari tren penurunan luasan es dan berdasarkan pemodelan skenario perubahan iklim.

Menurut Donaldi, pemanasan global merupakan sebab utama akan hilangnya es abadi di Papua. Padahal, es abadinya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Penyebab utama berkurangnya es di Papua adalah karena terjadinya proses pemanasan global yang dapat mencairkan es baik di kutub maupun di pegunungan tropis.

Seperti halnya di Papua, pencairan es juga terjadi di pengunungan Andes di Peru, Amerika Selatan dan Pegunungan Kilimanjaro di Afrika.

Lalu apa yang bisa dilakukan agar es abadi di Pegunungan Jayawijaya tidak akan hilang ? Menurut Donaldi, salah satunya melalui pengurangan gas rumah kaca yang dapat mengurangi laju penyusutan es. Tetapi untuk mempertahankan keberadaan es abadi di Pegunungan Jayawijaya akan sangat sulit, karena secara fisik, tutupan es di Papua sudah menyusut secara signifikan dan banyak terdapat rekahan.

Penyusutan es menyebabkan luas batuan di sekitarnya yang berwarna lebih gelap, semakin besar. Luasan tersebut dapat menyerap panas matahari lebih banyak dan mencairkan es di sekitarnya lebih cepat, pada kondisi Bumi yang semakin hangat, akan sangat sulit untuk menjaga keberadaan es abadinya.

[Nabire.Net]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *