Pemkab Dogiyai Harus Prioritaskan Pendidikan Dasar Di Piyaiye Dan Sekitarnya
Dogiyai – Pendidikan adalah dasar pembelajaran langkah menuju masa depan setiap orang bahkan daerah pada umumnya. Disamping itu kita sering ikuti di media masa dan elektronik bagaimana kemajuan dan perkembangan pendidikan, pesatnya teknologi dunia makin laju hingga saat ini, kemajuan daerah di era globalisasi semestinya harus patuhi dan jalani dari aspek sosial, budaya, politik, ekonomi juga aspek agama.
Semenjak 1900-an hingga saat ini dari eropa hingga Asia kita tahu berbagai tahapan perubahan dan peningkatan kurikulum pendidikan pada jenjang sekolah dasar yaitu; a). Kurikulum ideal, b). Kurikulum actual, c).Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), d).Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum), e).Kurikulum terpadu (integrated curriculum), f).Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum) g). Kurikulum nasional (national curriculum), h). Kurikulum negara bagian (state curriculum), dan i). Kurikulum sekolah (school curriculum)
Di Provinsi Papua masih berlaku kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dibawah naungan Undang-undang Otonomi Khusus (OTSUS). Telah lama kita punya pola pikir mencari yang terbaik. Pola pikir ini mengantarkan kebiasaan kita yang selalu merankingkan, termasuk di dunia pendidikan dan teknologi. Padahal, dari sisi layanan, seharusnya kita tidak terobsesi dengan stratifikasi, tetapi beralih ke diferensiasi pendidikan.
Khusus di Dogiyai, pendidikan dasar hingga saat ini masih tertinggal, tertinggal dalam prioritas Sumber Daya Manusia (SDM), tertinggal mendidik anak-anak sekolah dasar di berbagai pelosok baik itu di daerah Kamuu, Mapia bahkan di Piyaiye yang masih tetap terlantar.
Melihat berbagai pelosok/perkampungan di kabupaten Dogiyai masih sangat tertinggal dalam hal proses belajar mengajar (berantakan). Hal itu membuat siswa-siswi yang kini duduk bangku sekolah dasar menutupi cita-cita dan harapan mereka. Segala ketimpangan dan halangan bagi mereka hanya karena pengaruh sosial (togel, miras, judi dsb) bagi gurunya yang merajalela di kalangan masyarakat pada umumnya sehingga guru-guru masih tetap tinggal di titik pusat kota Dogiyai, Nabire bahkan di kota-kota besar yang lain.
Mengajar dan mendidik adalah tugas pokok sang guru kepada para muridnya, namun hingga saat ini masih banyak guru yang sama sekali tidak menetap dan mengajar pada tempat tugasnya, lebih aneh lagi mereka tambah tenaga honorel namun honorel juga sama tipe dengan kepala sekolahnya mereka tetap tidak mengajar. Akibat terpecah belah dan berantakan karena sebagai Pengawas wilayah dan tim monitoring dari Dinas Pendidikan tidak pernah untuk membenahi dan mengontrol kepada guru-guru di tempat tugasnya.
Sering kita mendengar dan baca amanah oleh sang Fisikawan, Bpk Prof. Yohanes Surya Ph.D, bahwa “guru yang baik dan metode yang baik. Dua hal ini mengubah orang. Apa itu guru yang baik? Guru yang baik adalah guru yang memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak didiknya. Dan bagimana metode yang baik? Metode yang baik adalah yang membuat pelajaran sulit menjadi mudah dan membuat pelajaran itu gampang, asyik dan menyenangkan.”
Tertinggal atau kemajuan bagi generasi muda adalah ditangan guru sekolah dasar selain itu membentuk karakter dan pola fikir anak pun di tangan mereka. Oleh sebab itu para dewan guru harus paham benar apa tugas dan tanggung jawabnya agar kabupaten Dogiyai bisa maju seperti daerah-daerah lain yang kini maju mendidik siswanya hingga mereka lanjut jenjang pendidikan para siswa di luar Papua bahkan di luar Negeri, hal itu mereka memberi teladan kepada kita orang Dogiyai.
Papua memiliki tujuh wilaya adat; a). Wilayah Adat Mamta/Tabi (87 Suku),b). Wilayah Adat Saireri (31 Suku), Wilayah Adat Doberai (52 Suku, c). Wilayah Adat Bomberai (19 Suku), d). Wilayah Adat Anim Ha / Ha Anim (29 Suku), e). Wilayah Adat La Pago (19 Suku), f). Wilayah Adat Me Pago (11 Suku). mereka sedang nikmati Perkembangan Pendidikan melalui Sumber Daya Manusia (SDM). Sedangkan kabupaten Dogiyai adalah salah satu kabupaten dalam wilayah di Me Pago dalamnya dihunyi oleh beberapa distrik dan perkampungan di berbagai pelosok-pelosok yang tak bisa jangkau secara langsung dan merata, apa lagi di Piyaiye dan Sukikai Selatan kedua daerah adalah daerah tak bisa jangkau secara langsung dari titik pusat kota Dogiyai karena jarak.
Pemerintah Daerah dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai harus bentuk tim monitoring/khusus untuk pantau beberapa sekolah di Distrik Piyaiye mengenai pendidikan. Karena beberapa sekolah Dasar di Distrik Piyaiye sampai saat ini tidak ada guru satu pun menetap untuk mengajar. Pada hal disana sudah lengkap fasilitas guru, baik itu perumahan guru, gedung sekolah yang mewah, dan kebun bagi mereka. Distrik Piyaiye memiliki delapan sekolah dasar dengan berstatus kelas enam dan juga empat; SD YPPK St Fransiskus Apogomakida(1-6), SD YPPGI Kegata(1-6), SD Inpres Yegeiyepa(1-6), SD Inpres Deneiode(1-6), SD Inpres Tibaugi(1-4), SD Inpres Egipa(1-4), dan SD Inpres Idedua(1-4). Beberapa sekolah diantaranya guru lengkap namun hingga saat ini hanya gedung yang kini penuhi rumputan hijau hingga bangunan jadi tak berguna dampak buruk bagi tunas muda karena guru tidak tugas di tempat tugasnya.
Sekolah-sekolah tersebut tidak ada guru satupun disana. Ribuan siswa masih haus ilmu. Sehingga banyak anak muda yang bercita-cita tinggi masih pengangguran dan terlantar.
“Kami butuh kepastian! mengapa semua guru tidak mengajar? Karena tidak ada guru yang ajar kami sehingga kami siswa-siswi di beberapa sekolah masih terlantar di Piyaiye. Kami butuh pendidikan yang bermutu seperti daerah lain, cita-cita kami setinngi langit, kami mampu bersaing. Namun, kesulitan kami disini semua ini tidak ada guru yang masih menetap mengajar kami”, Keluhan siswa SD Inpres Yegeiyepa (13/08/2018)
Lapisan masyarakat Piyaiye tetap sakit hati melihat anaknya tidak sekolah. Harapan orang tua adalah anaknya harus sukses, jadi manusia berguna di Negri ini, para orang tua murid masih bertanya apakah semua kepala sekolah memberikan tugas penuh di kantor dinas Pendidikan sehingga guru-guru tidak pernah mengajar.
“Kami sangat keluh kepada guru-guru yag bertugas di Piyaiye, mereka juga putra daerah Piyaiye. Anak kami butuh pendidikan yang layak, merekalah harapan kami orang tua nantinya. Kami jadi bingung, apakah guru-guru kami memberikan tugas dan tanggung jawab yang berat di kantor dinas pendidikan oleh atasannya? Hingga bertahun-tahun mereka tidak menginjak kaki di sekolahnya, kami butuh kepastian yang benar. Kami harap pihak Pemerintah jangan tahan para guru kami di pusat kota Dogiyai, Nabire dan beberapa kota besar lain”, keluhan orang tua/wali murid (13/08/2018).
Kepada Pemerintah daerah Dogiyai, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan jangan tutup mata mohon tangani kewalahan bagi anak-anak Piyaiye secepatnya. Utuskan guru-guru yang bertugas di piyaiye segerah bertugas di Piyaiye. Karena hingga saat ini tidak ada guru yang menetap tugas di Piyaiye. Kami haus Pendidikan yang layak, kami ingin tempuh pendidikan lagi seperti sebelumnya di perkembangan pendidikan dan Pesatnya teknologi di era globalisasi ini.
*Penulis: Sesilius Kegou
[Nabire.Net]



Leave a Reply