Peduli Konflik Tambang Di Nifasi, Solidaritas Untuk Nifasi Rilis 7 Pernyataan Sikap

 

Hampir setahun terakhir konflik Sumber Daya Alam mulai dari perkebunan, pertambangan, kehutanan hingga sumber daya kelautan menjadi persoalan serius di Nabire.

Konflik tersebut diakibatkan kabupaten Nabire memiliki sumber daya alam yang berlimpah sehingga membuat banyak pihak ingin mengelola sumber daya alam tersebut. Akibatnya benturan dan konflik baik antar investor, hingga melibatkan masyarakat, tak dapat dihindarkan.

Sejak Tahun 2001, tanah Papua didaulat untuk memiliki sebuah regulasi, untuk memproteksi hak-hak Masyarakat Adat Papua, dan sumber daya alam yang terkandung didalamnya, melalui Undang-Undang 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.

Pemegang kekuasaan tertinggi atas tanah dan sumbernya adalah Masyarakat Adat, mereka mempunyai kebebasaan dalam menentukan Hak Asasi Manusianya hingga hak mengelola sumber daya alamnya secara pribadi atau bekerjasama dengan pihak lain secara kolektif.

Di kabupaten Nabire selama setahun terakhir, konflik yang terjadi di kampung Nifasi, Wilayah Adat Suku Wate, membuat banyak pihak merasa terpukul dan peduli. Konflik yang muncul akibat perebutan lahan tambang di wilayah “Mosairo” ulayatnya Nifasi/Wate tak kunjung reda, dan pihak-pihak yang ingin menimbulkan konflik seakan tak mau melihat orang Nifasi bisa hidup sejahtera dari alamnya yang Tuhan dan leluhurnya berikan kepada mereka.

Orang Nifasi Suku Wate, pemilik hak penuh atas tanahnya telah menunjuk PT.Tunas Anugerah Papua membangun sistem kerakyatan untuk mengelola potensi sumber daya alam mereka (pertambangan emas) untuk masa depan dan peningkatan taraf hidup orang Nifasi yang lebih baik, dan PT.Tunas Anugerah Papua bukanlah orang asin atau investor dari luar yang datang ke Nabire tetapi adalah putra asli Nabire anak suku wate yang mengelola sendiri sumber daya alam tersebut.

Orang Nifasi Suku Wate secara kolektif memberikan kesempatan kepada PT Tunas Anugerah Papua untuk mengeksplorasi sumber daya alam di kawasan Mosairo, dengan tentunya mempertahankan kearifan lokal mereka dan kesejahteraan warga Nifasi. Dan hal tersebut tidak berlaku bagi perusahaan tambang lainnya.

Seiring waktu berjalan mereka melihat para perusahan-perusahan lain di luar PT Tunas Anugerah Papua masuk dan menjadikan kawasan Mosairo menjadi daerah konflik, tanpa sedikitpun memberi kontribusi bagi warga Nifasi.

Terkait hal itu, warga Nifasi tergabung dari berbagai element masyarakat dan lembaga telah membentuk “Solidaritas Untuk Nifasi”. Solidaritas ini mengeluarkan pernyataan sebagai berikut :

1. Kepada pihak-pihak atau Investasi Tambang (Perusahan-perusahan) yang tak diterima oleh Orang Nifasi, sebagai pemilik atas sumber alamnya. Jangan memaksakan atau menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi untuk menganggu/atau merebut Sumber Kahidupan mereka Orang Nifasi, yang sementara ini dikerjakan oleh mereka sendiri melalui PT.Tunas Anugerah Papua.

2. Keputusan untuk memilih dan menentukan pengelolaan sumber daya alamnya itu di tentukan oleh Masyarakat Adat Nifasi sendiri, dan hal tersebut di lindungi oleh Undang-Undang 21 Tahun 2001 Tentang; Otsus Bagi Papua, dan juga Konvenan PBB, tentang perlindungan dan kebebasan (HAM) bagi Masyarakat Pribumi (Indigenous Peoples).

3. Para investor dan perusahan yang tidak dinginkan bekerja dan tak mendapatkan ijin beroperasi oleh Orang Nifasi Suku Wate, agar segera Menghentikan intimidasi, teror dan lain sebagainya, yang menggunakan intervensi bebagai pihak yang tak menguntungkan.

4. Yang mempunyai hak di “Mosairo” adalah Masyarakat Suku Wate Kampung Nifasi, biarkan mereka yang memilih dan menentukan investasi mana yang bebas bekerja di wilayah adat mereka.

5. Kami minta Pemda Nabire (Instansi Terkait) yang mengurusi SDA di Nabire, Provinsi dan Pusat untuk; Jangan acuh dengan konflik pencaplokan yang terjadi di Nifasi, karena Masyarakat Nifasi Suku Wate mengharapkan bahkan meminta ada sebuah penanganan yang baik oleh Pemerintah, karena rakyat Nifasi Suke Wate lagi mengelola SDAnya sendiri, sehingga jangan menghambat proses menjadi tuan di Negeri sendiri yang sedang dilakukan sekarang di Nafasi, bersama PT.TAP.

6. Kepala-Kepala Suku,Tokoh Adat,Tokoh Agama dan Pemimpin-Pemimpin Lembaga Adat Di Nabire, untuk tidak terprovokasi untuk ikut mengambil bagian atau melegitimasi pihak-pihak yang ingin merusak hak hidup orang Nifasi, biarkan Masyarakat Nifasi yang empunya SDA ini yang akan menentukan sendiri hak mereka dan apa yang mereka pilih.

7. Kami minta dengan serius, untuk ada penanganan dari berbagai pihak pengambil kebijakan baik pemerintah Nabire, Provinsi Papua hingga Pusat. Penanganan sedini mungkin perlu dilakukan sebelum, kedepan ada hal-hal yang tak diinginkan bisa saja terjadi disana. Karena, dari pemantauan, Nifasi terjadi rawan konflik, yang sedang dimainkan oleh pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan dan memgabaikan keinginan Masyarakat Adat Nifasi.

Demikian Rilis yang dibuat, oleh “Solidaritas Untuk Nifasi” untuk menjadi kampanye persolan yang sedang terjadi tapi juga, bentuk dukungan bagi Saudara-saudari kami di Nifasi.

“Wate Nifasi Tidak Sendiri,Hentikan Pencaplokan Hak Mereka,Biarkan Mereka Menentukan Sendiri Hak Mereka”

Nabire, 18 Februari 2017.

Solidaritas Untuk Nifasi :
1.Aleks Raiki (Kepala Suku Umum Wate)
2.Roberthino Hanebora/Tino Yerisiam (Suku Yerisiam Gua,Nabire-Papua)
3.Reyner Windesi (Kordinato Bihewa Falsh Community,Jurnalis TV Swasta Nasional dan Daerah,Nabire,Papua)
4.Etha Yoweni (MHA Wenami,Nabire-Papua
5.Hanori Nanaor (Suku Wate)
6.John NR Gobai/John Jose (Dewan Adat Papua/Koalisi Peduli Korban Kelapa Sawit Tanah Papua)
7.Carol Ayomi Weror (Nabire,Papua)
8.Mirna Hanebora (Kordinator Hak Perempuan Yerisiam)
9.Aser Andoi (Tokoh Adat Hegure/Yaur)
10. Septer Awujani (Suku Yerisiam Selatan/Erega,Kaimana,Papua Barat.
11.Stevanus Manahara (MHA Teluk Umar)
12.Andi Sayori (DAD Wenami)
13.Ellon Raiki (Tokoh Adat Wate)
14. Ottis Monei (Tokoh Adat Nifasi)
15. Pietsau Amafnini (Jasoil Tanah Papua)
16.Pattiradjawane Simon Rey (Lbh-Papua)
17.Hollandia Yona (Forum Independen Mahasiswa,Wilayah Jayapura-Papua)
18.Evan Selo (Tokoh Pemuda Kaimana)
19. Fidra Putra Wisanggeni (Cikarang Bekasi,Jakarta)
20. Daud Monei (Tokoh Pemuda Nifasi,Nabire-Papua)
21. Hardy L Al Karim (LBH-Papua)

[Nabire.Net]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *