Papua Kaya Akan Obyek Penelitian Tapi Minim Dalam Publikasi Ilmiah

(Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, saat melakukan penelitian di Mamberamo Tengah, Papua)

(Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, saat melakukan penelitian di Mamberamo Tengah, Papua)

Jayapura – Papua saat ini menjadi tempat favorit bagi para peneliti dari luar negeri, baik itu peneliti arkeologi, flora, fauna, geologi, kelautan maupun peneliti budaya.

Hal ini berangkat dari minimnya publikasi ilmiah baik artikel, jurnal maupun buku hasil riset tentang Papua.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Negara Papua Nugini yang hanya berseberangan dengan provinsi Papua. Sudah banyak publikasi hasil riset ilmiah dari PNG.

Namun sayangnya, publikasi oleh peneliti PNG sangat minim, justru publikasi riset di PNG lebih banyak dilakukan peneliti dari Australia maupun Selandia Baru.

Belajar dari PNG, data dan obyek penelitian di Papua maupun Papua Barat sudah tentu sangat melimpah.

Untuk itu peneliti Papua dan peneliti Indonesia lainnya harus berperan aktif untuk lebih banyak melakukan riset dan mempublikasikan hasil risetnya. Jangan sampai data dan obyek penelitian lebih banyak dilakukan oleh peneliti luar negeri.

Papua harus belajar dari masa lalu. Benda-benda budaya di Papua banyak yang dikirim ke luar negeri seperti yang berada di musem Belanda dan Jerman. Untuk menikmati koleksi budaya Papua disana, pengunjung harus merogoh uang tak sedikit.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Papua harus bekerjasama dan lebih banyak memprogramkan penelitian di wilayahnya.

*Penulis Hari Suroto, Peneliti Balai Arkeologi Papua & Dosen Antropologi Uncen, yang dikirimkan kepada Nabire.Net

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *