INFO PAPUA
Home » Blog » OPM Penyandera 2 WNI Di PNG Minta Barter Sandera Dengan Temannya

OPM Penyandera 2 WNI Di PNG Minta Barter Sandera Dengan Temannya

123

(Jeffrey Pagawak dan Saul Bomay)

Menurut informasi yang beredar, oknum Gerakan Separatis Papua Bersenjata yang menyandera 2 penebang kayu di Papua Nugini meminta barter. Kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) ini disebut menuntut 2 temannya yang ditahan polisi di Papua dibebaskan.

“Memang ada beberapa tuntutan. Mungkin salah satunya itu,” ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Teguh Puji Rahardjo seperti dikutip dari detikcom, Senin (14/9/2015).

Teguh pun memperkirakan, penyanderaan ini juga terjadi sebagai buntut dari permintaan kelompok OPM saat ada acara pacific interland forum (FIF) beberapa waktu lalu. OPM meminta agar isu-isu kemerdekaan Papua dibawa dalam forum tersebut.

“Bisa jadi karena kegagalan saat FIF kemarin. Kan negara-negara pasific melaksanakan acara dalam rangka pembangunan bidang ekonomi. Dari kelompok sebelah ini (OPM), meminta dimasukkan soal HAM, kemerdekaan Papua Barat, tapi itu tidak bisa karena forum kaitannya dengan perekonomian,” jelas Teguh.

Saat ini TNI sendiri melalui Konsulat RI dan atase pertahanan di Papua Nugini masih terus berkoordinasi dengan PNG Army dan pemerintah setempat. Menurut Teguh, negosiasi masih dilakukan oleh tentara Papua Nugini.

“Itu sudah masuk wilayah PNG jadi TNI tidak masuk. Tapi kami tetap standby di perbatasan. Kami terus berkoordinasi dengan pasukan angkatan bersenjata PNG melalui Konsulat dan athan (atase pertahanan). Athan juga terus mendesak PNG Army agar sandera bisa segera dibebaskan,” Teguh menuturkan.

Peristiwa ini berawal dengan terjadinya penembakan terhadap 4 pekerja penebang kayu di kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (9/9). Satu orang tewas akibat kejadian ini, satu orang berhasil kabur dan 2 lainnya dibawa OPM hingga melewati perbatasan. Yakni tepatnya di  wilayah Skouwtiau, Papua Nugini.

Jubir OPM : Penyanderaan WNI Dipimpin Lucas Bomay

Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Saul Bomay menyebut penyanderaan terhadap dua warga negara Indonesia di Papua Nugini dipimpin oleh Lucas Bomay dari Dewan Komando Revolusi Militer OPM Republik Papua Barat. Penyanderaan, kata Saul, bukan dikomandoi Kelompok Jeffrey seperti yang sebelumnya disebutkan oleh Tentara Nasional Indonesia.

Menurut Saul, berbeda dengan Lucas yang memimpin operasi di lapangan, Jeffrey lebih banyak bekerja di belakang meja atau belakang layar.

Jeffrey, kata Saul, merupakan Juru Runding OPM yang kerap bekerja di luar negeri. “Jeffrey lebih pada diplomasi internasional,” ujar Saul.

Menurut dia, penyanderaan dilakukan agar pemerintah mau menerima tawaran OPM untuk berunding dalam satu meja. Perundingan diminta dilakukan di luar negeri dengan dimediasi oleh negara ketiga yang independen. (Baca juga: Sandera Dua Warga, OPM Tuntut Perundingan)

Materi perundingan yang ingin dibicarakan OPM adalah soal solusi pemerintah untuk berbagai masalah yang ada di Papua.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Endang Sodik menyebut pelaku penyanderaan adalah OPM Kelompok Jeffrey. Kelompok ini jadi buruan polisi sejak 2012 karena terlibat dalam penyerangan Polsek Abepura.

(Detik)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.