News & Info

INFO PAPUA

INFORMASI SEPUTAR PAPUA

BKMG Prediksi Hujan Lebat Di Wilayah Papua & Papua Barat Hingga 1 Agustus 2016, Waspadai Banjir, Longsor & Gangguan Jaringan Listrik

Last modified on 2016-07-30 12:04:05 GMT. 0 comments. Top.

cuaca

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, sejumlah wilayah di Papua dalam tiga hari ke depan mulai 30 Juli-1 Agustus 2016 akan dilanda hujan lebat. Pemicunya, kelembaban udara di wilayah tersebut tergolong tinggi.

Menurut BMKG, terdapat tekanan rendah di Samudera Pasifik utara dari Maluku Utara. Belokan angin dan konvergensi terdapat di Papua Barat, dan Papua. Selain itu juga Kelembaban udara tinggi di sebagian besar wilayah di Indonesia. Kondisi ini mendukung proses pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Adapun wilayah yang berpotensi hujan lebat dalam tiga hari ke depan selain Papua & Papua Barat adalah wilayah Maluku Utara dan Maluku.

Terkait hal ini, warga diminta lebih waspada terhadap bahaya banjir, longsor, dan kemungkinan gangguan jaringan listrik.

Akibat Perang Suku, Warga Mimika Yang Mengungsi Ke Jayapura Belum Ingin Kembali

Last modified on 2016-07-30 11:41:24 GMT. 0 comments. Top.

mimika

(Warga pengungsi dari Mimika)

Warga Mimika, Papua belum merasakan ketenangan saat ini. Itu dirasakan setelah terjadi perang suku pada Minggu (24/7). Sebanyak 346 jiwa di antara 114 kepala keluarga di Kampung Yile-Yale, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, terpaksa mengungsi karena peristiwa itu.

Mereka memilih mengungsi menggunakan pesawat terbang dengan tujuan Sentani, Kabupaten Jayapura. Mereka sementara tinggal di tenda-tenda pengungsian yang dibangun di Polomo Sentani Kota.

“Kami mengungsi ke Jayapura sejak Senin karena di Mimika tidak aman dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah,” ungkap Koordinator Pengungsi Jhon Wonda saat ditemui di kamp pengungsian di Polomo Sentani.

Pihaknya berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah Provinsi Papua dan DPRP Papua. Sebab, rumah mereka telah dibakar dan harta benda pun dijarah suku lain.

Menurut Jhon, 346 warga Mimika datang mengungsi ke Jayapura dengan membeli tiket sendiri tanpa bantuan dari pemerintah setempat. Mereka mengutamakan anak-anak, ibu-ibu, dan orang tua. Tujuannya, supaya mereka aman.

“Pemuda dan bapak-bapak sementara berada di tempat pengungsian di SP-III. Untuk makan, kami dapat dari keluarga yang di Sentani,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang warga yang ikut mengungsi, Mira Wonda, mengaku, sejak peristiwa perang suku, ibu-ibu dan anak-anak yang mengungsi menolak kembali ke kampung halaman. Meski, perang suku selesai. Sebab, semua rumah dan harta benda mereka di kampung halaman habis dibakar.

“Kami tidak punya tempat tinggal lagi. Kalau pun kami pulang, pemerintah harus memfasilitasi dan memastikan bahwa perang suku tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw menyatakan, belum ada komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Mimika dengan Pemda Kabupaten Jayapura soal warga yang mengungsi di Kota Sentani.

(JPNN)

Kontingen Papua Raih Juara 3 Umum Pada Jambore Pasraman Nasional IV Yogyakarta

Last modified on 2016-07-30 11:01:42 GMT. 0 comments. Top.

123

Kontingen Provinsi Papua berhasil mengharumkan nama Papua pada Jambore Pasraman Nasional IV, yang berlangsung di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 25-29 Juli 2016. Kontingen yang membawa 15 orang peserta pada 9 cabang lomba ini berhasil memboyong 3 kejuaraan, yaitu juara 3 lomba Yoga Asanas Putra, juara 3 lomba Mantram Tri Sandhya, dan juara harapan 3 lomba Yoga Asanas Putri. Adapun juara umum diraih oleh kontingen Provinsi Bali.

Membanggakan, bahkan jika mengingat tidak semua provinsi bisa memperoleh kejuaraan biarpun hanya satu posisi, demikian komentar penanggung jawab kontingen I Gusti Made Sunartha, S.Ag., MM., di ballroom Hotel Sheraton Yogyakarta, tempat digelarnya acara penutupan yang dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, (29/7).

Hal ini diamini Ketua Kontingen Didik Widya Putra, SE., MM., dan official I Wayan Wira Adnyana, S.Ag., yang juga menjelaskan bagaimana kerja keras latihan dijalani peserta sejak 3 bulan sebelum ajang bagi para pelajar pasraman Hindu se-Indonesai ini digelar. Kerja keras juga dilakukan para guru pendamping yang berasal dari berbagai sekolah di Jayapura dan Nabire.

Untuk diketahui, peserta Yoga Asanas putra dan putri, selain belajar agama di Pasraman Santiniketan, kompleks Pura Surya Agung Bhuvana, Skyline, juga merupakan pelajar pada SMU 4 Jayapura. Mereka adalah I Gusti Ngurah Krisna Yoga, I Gusti Ketut Adisuta Mahendra, Ni Kadek Nanda Ari Rianti, Komang Jyotir, Ni Nengah Maytri, Ni Made Satya Devi Puspaningrum. Sedangkan I Dewa Gede Dika Suastrawan merupakan pelajar pada SMU 3 Jayapura.

Untuk pemenag juara 3 Lomba Mantram Tri Sandhya lebih membanggakan lagi karena merupakan siswa yang masih sangat muda, kelas 2 Pasraman Sutasoma Nabire, setara kelas 2 SD pada umumnya. Kedua peserta pasangan lomba Mantram Tri Sandhya ini adalah Anang Yudha Sasmita, dan Ganesha Sijuwita Cahyono.

Sebagai informasi tambahan, Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua sekaligus penanggung jawab kontingen I Gusti Made Sunartha menjelaskan bahwa Adi Widya Pasraman Sutasoma Nabire, setingkat Sekolah Dasar, merupakan pasraman formal pertama di Indonesia. Sekarang sudah dibuka juga Pratama Widya Pasraman Sutasoma, setingkat Taman Kanak-Kanak. Jadi Pasraman Sutasoma Nabire adalah sekolah satu atap menggunakan sistem boarding school (sekolah berasrama). Pasraman formal diatur dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 56 Tahun 2014.

Dengan PMA Nomor 56 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu, kita menyongsong pasraman formal. Saya mengpresiasi Dirjen Bimas Hindu yang sigap mempersiapkan agar memfasilitasi pendirian pasraman formal. Demikian antara lain yang disampaikan Menteri Agama dalam sambutannya menutup Jambore Pasraman Nasional IV.

(Dewi)

Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Paniai Kota Studi Nabire Gelar Musyawarah Pemilihan Badan Pengurus

Last modified on 2016-07-30 11:28:25 GMT. 0 comments. Top.

2

Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Paniai (FKM-KP) Se-kota Studi Nabire telah menggelar musyawarah pemilihan Badan Pengurus Baru (BP) Periode 2016-2018, Sabtu, (30/07) di Aula Asrama Emawa Putra Kabupaten Paniai di Kalibobo kota Studi Nabire, Papua.

Sekertaris Formator Hosea Yogi, mengatakan, proses pemilihan ini dilakukan secara sistem delegasi dalam suasana kebersamaan.

“Peserta musyarah FKM-KP kota studi Nabire yang diutus masing-masing lima orang dari sepuluh Distrik sebagai ikatan yang ada di kota Nabire. Jadi, berjumlah 50 orang hak memilih,”kata Yogi.

FKM-KP di Nabire, kata dia, mempunyai ikatan lokal yakni, WUWE, IKAPPMMA, IPPMARPUT, YATOMO, IPPMABO, IPMKD, SIRIWO dan IPPM-TD.

Pantauan kabarmapegaa.com, usai dilakukan proses pemilihan, Ujar Jhon Yeimo terpilih menjadi ketua FKM-KP kota study Nabire peride 2016-2018.

Ketua Terpilih, jhon Yeimo, mengucapkan rasa terimakasih kepada anggota yang memilih dirinya sebagai ketua.

“Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan berbagai program sebagai terobosan-terobosan baru demi mewujudkan perubahan baru baik di tingkat forum maupun di daerah kabupaten Paniai,”katanya.

(Demianus Yabokei Bunai)

Gubernur Papua Kirim Utusan Terkait Rencana Mahasiswa Papua Tinggalkan Yogyakarta

Last modified on 2016-07-26 16:24:35 GMT. 0 comments. Top.

kamasan

Pemerintah Provinsi Papua telah mengirim utusan bersama DPRD setempat ke Yogyakarta. Hal ini terkait rencananya seluruh mahasiswa Papua meninggalkan Yogyakarta karena merasa tak aman.

Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Pemprov Papua Hery Dosinaen saat ditemui seusai menghadiri Rakernas Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI) di Jayapura, Senin (25/7/2016).

Hery menuturkan, Gubernur Papua Lukas Enembe sendiri yang mengutus perwakilan ke Yogyakarta untuk membicarakan masalah jaminan keamanan bagi para mahasiswa yang menuntut ilmu di sana.

“Gubernur juga telah berkoordinasi dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mengatasi masalah anak-anak Papua yang menuntut ilmu di Yogyakarta,” kata Hery.

Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI) Angelo Wake Kako menyatakan, pemerintah Indonesia telah gagal menjamin keamanan bagi mahasiswa Papua yang menuntut ilmu di Yogyakarta.

Pernyataan Angelo terkait rencana Aliansi Mahasiswa Papua yang berencana meninggalkan Papua karena merasa keamanannya tak terjamin.

Hal ini mereka rasakan setelah aksi pengepungan dan penangkapan mahasiswa di Asrama Papua yang hendak menggelar aksi unjuk rasa damai untuk menuntut masuknya organisasi United Liberation Movement for West Papua dalam perkumpulan negara Melanesia (MSG) oleh aparat keamanan dan sejumlah ormas pada 15 Juli 2016.

Saat itu ditemui di sela acara Rakernas PMKRI di Jayapura, Senin (25/7/2016), Angelo menyatakan bahwa jika mahasiswa Papua pergi dari Yogyakarta, hal itu menjadi pukulan telak bagi negara.

“Terbukti negara telah gagal memberikan rasa aman bagi warganya di seluruh wilayah Indonesia. Presiden Joko Widodo harus menangani masalah ini agar tak meluas,” kata pria asal Ende, Nusa Tenggara Timur itu.

Ia pun menyatakan, pendekatan represif untuk penanganan berbagai gejolak di Papua sudah ketinggalan zaman.

“Negara ini sudah keliru apabila tetap menggunakan langkah represif untuk meredam aksi massa di Papua. Kami mendesak pemerintah untuk memberikan keamanan bagi mahasiswa Papua yang berada di Yogyakarta,” kata Angelo.

Sementara itu Pastor John Jonga, salah satu penggiat masalah HAM diPapua menyatakan, keluarnya mahasiswa Papua dari Yogyakarta adalah ancaman bagi Indonesia di mata publik internasional. Sebab, tak ada lagi jaminan keamanan dari negara atas warga Papua yang menuntut ilmu di Yogyakarta.

“Apabila Presiden Joko Widodo tidak turun tangan mengatasi masalah ini, maka mahasiswa Papua di wilayah Indonesia lainnya juga akan mengambil sikap yang sama,” tutur John.

(Kompas)

Akibat Tenggak Miras, 5 Orang Meninggal & 2 Kritis Di Dogiyai

Last modified on 2016-07-25 15:58:31 GMT. 0 comments. Top.

Untitled-1

(Dokpri.Agus.Tebai)

Minuman keras kembali memakan korban di wilayah Moanemani kabupaten Dogiyai Papua. Setelah sebelumnya kasus yang sama terjadi pada 27 mei 2016 lalu yang merengut 2 nyawa, kali ini miras merengut 5 nyawa yang terjadi minggu malam (24/07).

Menurut beberap sumber yang dihimpun Nabire.Net, kelima korban yang meninggal akibat miras tersebut diketahui bernama Andi Dogomo (21), Damianus Tebay (35), Zeth Tebai (30), Gamoye Goo (25), Siprianus Goo (35). Sedangkan 2 korban lainnya masih dalam keadaan kritis atas nama Melkias Goo (20), dan Peumabipai (21).

Ironisnya, kejadian kali ini merupakan kejadian kali keempat yang terjadi sejak masuknya pemekaraan kabupaten Dogiyai hingga saat ini, dengan total jumlah korban meninggal 23 orang.

Aliansi Mahasiswa Papua Putuskan Siap Tinggalkan Yogyakarta Segera Dan Kembali Ke Papua

Last modified on 2016-07-25 09:23:47 GMT. 0 comments. Top.

kamasan

(Asrama Kamasan Papua Yogyakarta/Dok.Metrotv)

Pengurus Biro Politik Aliansi Mahasiswa Papua, Roy Karoba, mengatakan para mahasiswa Papua di Yogya telah menggelar rapat koordinasi yang menghasilkan keputusan untuk meninggalkan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kami, mahasiswa Papua di Yogya, menyatakan sikap untuk kembali ke Papua. Kami telah membuat kesepakatan. Terkait kuliah, akan dimintakan surat pindah untuk melanjutkan studi di Papua,” kata Roy kepada CNNIndonesia.com, Jumat malam (22/7).

Keputusan tersebut diambil karena para mahasiswa Papua khawatir dengan jaminan keamanan mereka di Yogya. Ucapan Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Gubernur DIY sekaligus Raja, menjadi pertimbangan utama.

“Pernyataan Sultan terkait separatisme sangat mengganggu, dan akan melegitimasi aparat serta ormas di Yogya untuk bertindak diskriminatif terhadap mahasiswa Papua,” ujar Roy.

Sultan sebelumnya meminta kepada orang Papua di Yogya untuk tidak melakukan aksi separatisme, sebab mereka bagian dari bangsa Indonesia. Bagi yang memiliki aspirasi separatisme, kata Sultan, jangan tinggal di Yogyakarta.

Menurut Roy, “Label separatis selama ini digunakan aparat sebagai legalitas untuk membunuh, menangkap, meneror, mengintimidasi, dan memenjarakan orang asli Papua.”

Kali ini, kata dia, label yang sama ditujukan Sultan kepada mahasiswa Papua. “Ini mengkhawatirkan. Akan sangat mungkin menjadi legalitas aparat dan ormas dalam menyikapi aktivitas mahasiswa Papua.”

Peringatan Sultan agar warga Papua tak mengusung aspirasi separatisme, dikeluarkan beberapa hari setelah insiden pengepungan di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta.

Jumat 15 Juli, ketika para mahasiswa Papua yang tergabung dalam Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) berencana melakukan long march dari depan Asrama Mahasiswa Papua ke Titik Nol KM di Jalan Panembahan Senopati, aparat Kepolisian mengepung asrama dan mendorong mereka masuk ke dalam.

Menurut pasukan polisi yang mengelilingi asrama, mereka hendak mengamankan mahasiswa Papua dari ormas-ormas antiseparatis yang datang untuk menentang rencana long march para mahasiswa itu. Long march dimaksudkan sebagai aksi damai guna mendukung Gerakan Pembebasan Papua menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group (MSG).

Dalam MSG yang beranggotakan pemerintah negara-negara Melanesia di Pasifik Selatan itu, Indonesia dan Gerakan Pembebasan Papua (United Liberation Movement for West Papua, UWLMP) tengah berebut dukungan. UWLMP mengincar keanggotaan penuh di MSG untuk memuluskan penyampaian aspirasi mereka terkait isu Papua. Niat ini ditentang Indonesia yang tak menghendaki Papua memisahkan diri.

Oleh sebab itu pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Yogya sarat persoalan politik, yang akhirnya berkelindan dengan dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh ormas-ormas intoleran dan aparat keamanan.

Lontaran nama-nama binatang dan kata-kata rasialis yang keluar dari mulut anggota ormas selama pengepungan, ditambah perlakuan kasar aparat keamanan terhadap rekan-rekan mahasiswa yang sempat ditangkap, membuat runyam persoalan.

Ernawati dari gerakan prodemokrasi di Yogya berkata, persoalan Papua tak lepas dari sebab akibat. “Jika tak ingin Papua merdeka, jangan lakukan pelanggaran HAM di Papua. Jangan respons aspirasi rakyat Papua dengan kekerasan.”

Seorang warga Yogya, Elanto Wijoyono, berpendapat perbedaan pandangan politik seharusnya jangan sampai menghilangkan relasi antarsesama manusia.

Sementara Komnas HAM mengatakan, ruang berekspresi mahasiswa Papua seharusnya tidak dibatasi pemerintah, sebab kebebasan berpendapat merupakan hak setiap individu.

“Dalam konteks HAM, pemerintah wajib melindungi hak asasi warga negaranya,” kata Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai yang mendatangi Asrama Mahasiswa Papua di Yogya untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM dalam insiden pengepungan 15 Juli.

Sepekan setelah insiden pengepungan itu, mahasiwa Papua di Yogya masih terintimidasi. “Mereka merasa tak aman. Di jalan, mereka diteriaki kata-kata rasialis,” kata Erna yang sehari-hari berkomunikasi dengan para mahasiswa itu.

Perkataan antiseparatisme Sri Sultan Hamengkubowono X, ujar Pigai, berdampak luas terhadap orang Papua di Yogya.

“Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh seorang tokoh yang punya tiga pangkat sekaligus, yakni tokoh nasional, negarawan, dan raja. Untuk masyarakat Jawa di Yogya, ucapan itu dipandang sebagai sabda atau titah raja, dan bisa memicu ormas atau masyarakat melakukan tindakan-tindakan Papua-fobia,” kata Pigai.

Mestinya, ujar pria kelahiran Paniai itu, Sultan menyebutkan nama jelas individu separatis. “Sehingga masalah dilokalisir ke individu, tak diperluas ke semua warga Papua.”

“Jika nama separatis tidak disebutkan, pandangan umum bisa menafsirkan semua mahasiswa Papua di Yogya separatis. Ini sangat berbahaya dan menciptakan ketidaknyamanan hidup bagi mereka secara keseluruhan. Mereka berada pada posisi serba salah,” kata Pigai.

Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa Yogyakarta itu pun menyesalkan situasi memburuk. Padahal, ujar Pigai, selama ini para mahasiswa yang menghuni Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I hidup rukun dengan warga sekitarnya.

Wakil Ketua Komnas HAM Ansori Sinungan mengatakan, dampak dari insiden di Asrama Kamasan ialah ancaman adanya gesekan antaretnis di Yogya maupun Papua.

Komnas HAM menegaskan memandang persoalan dari aspek hak asasi manusia, bukan politik. Negara, kata Pigai, harus memberikan perlindungan yang sama terhadap warganya tanpa melihat suku dan ras.

(CNN)

Setelah Berlangsung Sebulan, Diklat Prajab Golongan II & III Formasi 2013 Kabupaten Intan Jaya Resmi Ditutup Bupati Natalis Tabuni

Last modified on 2016-07-23 13:52:54 GMT. 0 comments. Top.

123

Bupati kabupaten Intan Jaya, Natalis Tabuni SS M.Si secara resmi menutup kegiatan Diklat Prajabatan Golongan II & III Formasi tahun 2013, sabtu pagi (23/07), bertempat di Aula SMU Negeri 1 Nabire.

Diklat ini sendiri telah berlangsung selama sebulan sejak 15 juni 2016, Diklat Prajabatan yang diikuti oleh 273 orang, terdiri dari golongan sebanyak 121 orang dan golongan 3 sebanyak 152 orang.

abc

Dalam arahannya, Bupati Natalis Tabuni menghimbau kepada para PNS sebagai aparatur negara haruslah menjadi abdi masyarakat dan bukan penguasa, sehingga hars betul-betul melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya melayani, membina, membimbing warga masyarakat di tempat tugasnya.

Bupati Natalis Tabuni diakhir sambutannya berharap pada semua PNS di Intan Jaya turut memelihara persatuan dan kesatuan dan senantiasa memelihara kamtibmas agar Intan Jaya tetap aman dan kondusif.

[Nabire.Net]

Guru Honor SD Di Kabupaten Deiyai Keluhkan Penurunan Upah

Last modified on 2016-07-22 08:32:11 GMT. 0 comments. Top.

e

Kebijakan pembagian honororarium untuk guru honorer Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Deiyai, Papua, tahun ini mengecewakan karena mengajar selama dua triwulan dibayar sekali, dalam jumlah kecil. Tahun 2015, per orang menerima 5 juta, tetapi tahun 2016, berkurang 3 juta.

Philipus Mote, kepala seksi peningkatan mutu Bidang Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Deiyai, mengatakan, hal itu karena nominal dana untuk guru honorer pada tahun 2016 berbeda dengan sebelumnya.

“Untuk guru honorer, porsi kali ini kurang dari tahun 2015. Pada tahun lalu kami memberikan dananya dalam jumlah besar karena ada program Gerbang Emas, sumber dana Otonomi Khusus,” kata Philipus, Kamis (21/7/2016).

Selain itu, menurutnya, guru-guru honorer di Deiyai mendapatkan haknya tak sama dengan kabupaten lain. “Mereka di daerah lain ada tiga tunjangan,” imbuh Mote.

Penjelasan tersebut sudah ia sampaikan saat pembagian dana bagi guru honorer SD, Selasa (19/7/2016) di ruang SD YPPK Waghete, Distrik Tigi. Dana tersebut mulai disalurkan sejak sehari sebelumnya dari wilayah Distrik Tigi Timur hingga ke Deiyai bagian barat berlangsung di masing-masing sekolah.

Sementara, Arlince Pekei, guru honorer di SD YPPK Waghete, mengaku kecewa karena jumlah yang dibagikan kali ini berbeda dengan tahun lalu.

“Kami bukan Pegawai Negeri, kami tidak mendapatkan dana tunjangan. Jadi, saya pikir itu hanya alasan dari pihak dinas,” tuturnya.

Ibu guru Pekei menilai kebijakan dari pihak dinas tidak memuaskan semua guru honorer yang selama ini aktif di sekolah. “Kami sangat kecewa dengan pembagian ini. Sebab, kami mengajar selama dua triwulan, hanya dibayar tiga juta rupiah,” ujarnya.

Seharusnya, tegas dia, jumlah honornya disesuaikan dengan daerah lain. “Kalau kabupaten lain, per triwulan itu enam juta rupiah,” ucapnya membandingkan.

Marsela Bobii, rekan guru honorer, juga senada. “Ya, kami kecewa sekali. Selama ini yang aktif mengajar itu guru-guru honorer, tetapi dikasih upah kecil. Ini bikin kami malas mengajar lagi.”

Ia menyayangkan terjadinya pemangkasan di tahun ini. “Kami masih baik sedikit, tetapi kami kasihan itu guru honorer yang mengajar di SMA dan SMK karena mereka terima 2,5 juta rupiah,” kata Bobii.

Selentingan yang beredar, anggaran dari seluruh guru honorer SD diduga dipotong Rp2 juta per orang untuk tanggulangi guru honorer SMA/SMK.

(Agustinus Dogomo)

Songsong HUT Kemerdekaan RI Ke 71, Polres Paniai Menggelar Seleksi Anggota Paskibra

Last modified on 2016-07-20 15:17:04 GMT. 0 comments. Top.

b

Dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI tahun 2016 yang ke 71, Polres Paniai melaksanakan seleksi tahap awal Peserta Paskibra Kab. Paniai 2016 di Lapangan Apel Polsek Paniai Timur, Senin (18/7).

Kepolisian Resor Paniai pada Rapat Pembentukan Panitia HUT RI Kab. Paniai telah ditunjuk menjadi Seksi Paskibra. Dalam kegiatan tersebut Kabag Ops KOMPOL Sukapdi selaku ketua Seksi Paskibra  di diwakili oleh Kasubag Bin Ops AKP Martinus G. Elaman memimpin jalannya seleksi.

Jumlah Siswa dan Siswi yang ikut seleksi sebanyak 61 orang, terdiri dari 29 laki-laki dan 32 Perempuan yang berasal dari SMA Negri 1 Paniai, SMA YPPGI Paniai dan SMK Karel Gobay Paniai.

Seleksi peserta Paskibra akan dilaksanakan selama 3 hari ke depan dengan merekrut 30 Siswa dan Siswi terbaik untuk selanjutnya dilatih sebagai Peserta Paskibra Kab. Paniai Tahun 2016.

(Humas Polres Nabire)

Apel Gabungan TNI/Polri & Pemda Paniai

Last modified on 2016-07-19 16:09:31 GMT. 0 comments. Top.

e

Bertempat di halaman kantor Bupati Kabupaten Paniai anggota Polres Paniai bersama Pemda dan TNI melaksanakan apel gabungan yang di pimpin oleh Kapolres Paniai AKBP Leonardos Nabu, Senin (18/7).

Hadir dalam apel tersebut Kabag Sumda Polres Paniai KOMPOL Muh. Hilal, Kabag Ren Polres Paniai KOMPOL Muh. Pahri, Kasat Sabhara Polres Paniai AKP Arkilaus Tablaseray, Danton Kostrad 509 Bko Kab. Paniai Lettu Inf. Djanuar Bm dan Para SKPD Kab. Paniai.

Peserta apel gabungan terdiri dari 1 peleton anggota gabungan staff Polres Paniai, 1 peleton anggota Koramil 1705-02 Enarotali, 1 peleton anggota gabungan Kostrad 509 dan Paskhas Bko Kab. Paniai, 1 pleton anggota Sat Pol PP Kab. Paniai dan 1 pleton PNS Kabupaten Paniai.

Kapolres Paniai dalam arahannya Mengucapkan terimaksih kepada seluruh peserta apel yang telah hadir dalam apel gabungan dan menghimbau kepada seluruh peserta apel gabungan agar dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat karena merupakan wakil atau orang-orang terpilih yang ditunjuk negara untuk melayani masyarakat.

“Terkait masalah kamtibmas yaitu kasus yang menonjol akhir-akhir ini di Kab. Paniai yaitu kasus curanmor dan miras/pemabukan kami dari pihak Kepolisian Polres Paniai akan berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir kasus,” Terang Kapolres.

Kapolres juga menyampaikan kepada seluruh aparat keamanan Tni/Polri di wilayah hukum Kab. Paniai agar selalu menjaga kekompakan dalam menjaga sitkamtibmas di Kab. Paniai dan jangan menjadi pemicu konflik permasalahan dengan masyarakat.

Kegiatan apel gabungan ini rutin dilaksanakan Pemda Kab. Paniai dan Tni/Polri sekali sebulan setiap tanggal 17, namun karena taggal 17 Juli 2016 adalah hari Minggu sehingga apel gabungan dilaksanakan hari Senin tanggal 18 Juli 2016.

(Humas Polres Nabire)

Polda Yogya Tarik Sejumlah Pasukannya, Kondisi Di Asrama Mahasiswa Papua Kembali Normal

Last modified on 2016-07-17 15:56:08 GMT. 0 comments. Top.

kamasan

Aktivitas mahasiswa papua di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I, Jalan Kusumanegara, Kota Yogyakarta, mulai normal, pada Minggu (17/7). Sebanyak ratusan mahasiswa asal Papua tinggal di asrama tersebut, yang sebelumnya dikepung kepolisian lantaran bakal melakukan aksi ‘Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Papua Barat’ di titik nol Yogyakarta, pada 15 Juli 2016. 

“Ada 100an orang yang tinggal di asrama. Sebagian sedang pulang ke Papua karena sedang masa libur. Aktivitas kini mulai berjalan biasa,” kata juru bicara Persatuan Rakyat Pembebasan Papua Barat (PRPPB), Roy Karoba.

Ia menuturkan, aparat kepolisian mulai menarik sejumlah pasukannya sejak Sabtu, 16 Juli 2016, sore. Namun, masih ada beberapa aparat yang memantau mereka. Mobil patroli, menurut Roy, sesekali masih berkeliaran di sekitar asrama.

“Tadi pagi masih ada mobil patroli. Kemungkinan mantau lagi, lalu pergi,” ujarnya.

Terkait langkah petugas, Roy mengecam, pasalnya  menurut dia tindakan petugas menangkap tanpa alasan dan melukai rekannya yang sedang membeli ubi di Pasar Gawangan adalah hal yang tidak patut.

“Alasan polisi menangkap dan menganiayaan tidak jelas. Kami bakal membahas tindak lanjut dengan LBH tentang masalah ini, termasuk satu mahasiswa yang dijadikan tersangka,” jelasnya.

Sebelumnya, pihak kepolisian mengatakan, penurunan pasukan di sekitar asrama lantaran mahasiswa hendak mengampanyekan keinginan Papua Barat keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu dinilai sebagai tindakan makar.

“Karena dari pihak kepolisian yang berjaga memperbolehkan dan menghimbau untuk tidak keluar dari asrama. Sekarang Yogja damai dan kondusif semenjak kemarin dan hari ini. Silahkan masyarakat Yogja untuk beraktivitas seperti biasanya,” ujar Karo Ops Polda DIY Kombes Pol Bambang.

(Metrotv)

KPU Dogiyai Umumkan 5 Besar Tiap Distrik, Anggota PPD Yang Lulus

Last modified on 2016-07-16 13:46:26 GMT. 0 comments. Top.

kpu dogiyai

Komisi Pemilihan Umum kabupaten Dogiyai melalui Pokja Perekrutan Panitia Pemilihan Distrik (PPD), Pilkada Dogiyai 2017, resmi menetapkan nama-nama anggota PPD yang berhasil lulus pada seleksi wawancara yang telah dilaksanakan pekan lalu.

Menurut Ketua Pokkja Perekutan PPD, Moses Magai S.Ip, pada perekrutan ini,  penilaian para calon PPD menggunakan sistem rangking dan nilainya tertinggi itu yang  diluluskan dalam 5 besar setiap Distrik.

Dirinya bersama KPUD Dogiyai siap menawal dan menyukseskan Pilkada Dogiyai 2017.

a b

(Dokpri.PKB Dogiyai)

8 Mahasiswa Papua Dilepas, 1 Ditahan Karena Membawa Senjata Tajam. Hingga Saat Ini Asrama Papua Di Yogya Masih Dijaga Aparat Kepolisian

Last modified on 2016-07-16 14:48:50 GMT. 0 comments. Top.

tribunjogja

(Dok.TribunJogja)

Aparat gabungan dari Kepolisian Resort Kota Jogja dan Polda DIY sampai saat ini masih berjaga di sekitar Asrama Papua Kamasan I, Jalan Kusumanegara, Umbulharjo, Jogja, Sabtu (16/7/2016). Meski sebagian besar mahasiswa Papua yang sempat terkepung sudah meninggalkan asrama.

Seratusan mahasiswa Papua sempat terjebak di dalam asrama sejak Kamis (15/7/2016) pagi hingga Jumat dini hari. Mereka yang berencana menggelar aksi damai terkait hak menentukan nasib sendiri di Papua Barat, tidak bisa keluar asrama karena dikepung polisi dan sejumlah ormas.

Bahkan, menurut Juru Bicara Persatuan Rakyat Pembebasan Papua Barat, Roy Karoba, mahasiswa dibiarkan kelaparan di dalam asrama. Pasokan makanan ke dalam asrama sulit masuk.

Namun warga Miliran dan aktivis pro-demokrasi mencoba masuk ke Asrama Papua dan berhasil membawa makanan. Sebagian polisi dan Brimob kemudian meninggalkan asrama menjelang tengah malam.

2

(Mahasiswa Papua asal Tolikara Obi Kogoya/Dokpri.Okto Marko)

Rencana aksi damai mahasiswa Papua dan aktivis pro-demokrasi mendukung Persatuan Pergerakan Pembebasan untuk Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) urung digelar Jumat siang, 15 Juli 2016. Acara itu dibubarkan ratusan personel gabungan dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Brigade Mobil, dan organisasi masyarakat lain.

3

(Dokpri.Donatus Mote)

Mereka mendatangi Asrama Mahasiswa Papua sejak pagi hingga sore hari. Organisasi masyarakat Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia, Pemuda Pancasila, Paksi Katon, dan Laskar Jogja membubarkan rencana aksi damai itu. Mereka membawa senjata semacam bambu dan pentungan.

Mereka meneriaki sejumlah warga Papua yang keluar dari asrama dengan kata-kata kotor dan nama-nama hewan. Ada pula yang melemparkan batu ke halaman Asrama Papua.

Anggota FKPPI Kecamatan Umbulharjo, Elly Kinadi, yang datang ke Asrama Papua mengatakan menolak aksi aktivis dan mahasiswa Papua. Dia menuding aksi itu bagian dari gerakan Organisasi Papua Merdeka. Setidaknya ada 35 orang dari FKPPI yang mendatangi Asrama Papua. “Kami bersama Pemuda Pancasila, Paksi Katon, dan Laskar Jogja menolak,” kata dia.

Terkait hal ini, Polda Yogya menangkap 1 orang mahasiswa Papua yang membawa senjata tajam, sedangkan 8 mahasiswa lainnya sudah dibebaskan.

Arus Balik Lebaran Via KM Labobar Didominasi Penumpang Tujuan Nabire & Serui

Last modified on 2016-07-16 12:51:21 GMT. 0 comments. Top.

1

Grafik penumpang saat arus balik usai hari raya Lebaran, mulai menanjak. Hal ini terlihat saat KM Labobar berangkat dari pelabuhan Jayapura, dengan membawa 4.907 penumpang.

Kapal ini melayani rute Jayapura, Serui, Nabire, Manokwari, Sorong, Ternate, Bitung, Amurang, Buol, Pantoloan, Balikpapan dan berakhir di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Administratur Penata Usaha KM Labobar, Mujiono, menjelaskan, jumlah penumpang dalam pelayaran kali ini meningkat dari biasanya yang hanya memuat sekitar 900-1.000-an penumpang.

“Kapasitas KM Labobar adalah memuat 3.084 penumpang. Di manifest kami, penambahan 1.823 penumpang, sehingga total penumpang 4.907 penumpang dari Jayapura,’ paparnya.

Menurut dia, penumpang ini didominasi daerah tujuan Serui dan Nabire, sebagai daerah terdekat dengan Jayapura yang dilalui kapal putih. Selain itu, lonjakan penumpang ini juga disebabkan karena arus mudik Lebaran.

Berjubelnya penumpang diatas kapal membuat sebagian diantaranya tidak mendapat tempat tidur. Salah satunya Ishak dan Ria, dua penumpang dengan tujuan pelabuhan Manokwari. “Saya dan keluarga (isteri dan dua anak), tujuan Manokwari, tapi tidak mendapat tempat tidur. Mau bagaimana lagi karena kapal jadi alternatif terakhir. Apalagi tiket pesawat susah didapat dan masih mahal,” akunya.

Selain itu, sejumlah penumpang yang kebanyakan anak muda atau usia sekolah yang baru habis liburan, juga tidak mendapat tempat. Mereka rata-rata memilih skoci sebagai alternatif teraman untuk mendapatkan tidur. Meski demikian, keselamatan mereka mengkhawatirkan, karena kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.

(MP)

Hingga Jumat Malam, Aparat Kepolisian Dari Polda Yogya Masih Kepung Asrama Papua, Puluhan Mahasiswa Mulai Terancam Lapar. Polisi Juga Tembakkan Gas Air Mata

Last modified on 2016-07-15 16:41:05 GMT. 0 comments. Top.

abc

(Dokpri.Alves Fonataba)

Hingga malam hari ini (15/07), aparat kepolisian dari Polda Yogya masih berjaga-jaga di Asrama Mahasiswa Papua di Yogyakarta atau biasa disebut Asrama Kamasan.

Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua, Aris Yeimo, mengatakan polisi menghadang pintu depan dan pintu belakang asrama sejak pagi hingga saat ini, sehingga sekitar 60-70 orang mahasiswa di dalam asrama sama sekali tidak bisa keluar.

Dia mengatakan tak mengetahui alasan pengepungan tersebut dan mengakui bahwa kejadian seperti ini sering terjadi.

“Sebulan mungkin ada 4-5 kali. Sekarang kami tidak bisa melakukan apa-apa, mau makan dan minum saja susah,” katanya.

Aris mengaku Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua tidak terkait kegiatan dengan ‘aksi separatis’ yang dimaksud.

Lebih lanjut menurut Aris, sekitar pukul 19.25 WIB malam tadi, polisi bahkan menembakkan gas air mata sebanyak tiga kali.

“Alasannya katanya karena kami kan di sini ada bakar sampah kan. Di sini kan banyak sampah. Mereka bilang itu harus dimatikan karena itu mengganggu kami. Padahal toh kami bakar sampah. Nah itu sampai mereka bisa keluarkan gas air mata itu.”

Sebanyak 20 orang ditangkap siang tadi sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. 13 orang kemudian dibawa ke Polresta, dan 7 lainnya dibawa ke Polda.

“Mereka bilang selama kami masih di dalam, mereka akan terus di luar. Kami juga tidak mengerti maksudnya apa,” ungkap Aris.

Aparat Polda Yogya Tangkap 7 Mahasiswa Papua

Last modified on 2016-07-15 12:23:41 GMT. 0 comments. Top.

a

Personil kepolisian kembali mengepung asrama mahasiswa Papua di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta pada Jumat, 15 Juli. Dalam peristiwa tersebut, Polda Yogyakarta menangkap 7 mahasiswa.

Mereka ditangkap di tempat yang terpisah. Tiga orang yang terdiri dari Nus Tabuni (mahasiswa Universitas Widya Dharma Klaten, Jawa Tengah), Obi Kogoya (mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta) dan Debi Kogoya (mahasiswa Universitas Kristen Immanuel Yogyakarta) ditangkap saat hendak masuk ke asrama. Di dalam, mereka tengah menggelar aksi damai untuk mendukung penentuan hak nasib bagi Papua barat.

Polisi langsung membawa mereka ke markas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta. Penangkapan ketiganya berlangsung sekitar pukul 09:30 WIB. Hal itu bermula dari sekelompok petugas polisi yang berseragam dan mengenakan pakaian preman berusaha masuk secara paksa melalui pintu belakang asrama.

Tetapi, hal itu tidak jadi mereka lakukan. Dari kejauhan, mereka melihat beberapa mahasiswa Papua yang sedang memarkir sepeda motor di dekat pintu belakang asrama.

Polisi mendatangi mereka untuk menanyakan surat kendaraan bermotor. Sementara, beberapa petugas polisi yang lain meneriaki mereka dengan ucapan provokatif: “kami habisi kamu”.

Kondisi menjadi tak terkendali. Dua mahasiswa Papua kemudian meninggalkan polisi dan berjalan pelan menuju ke Jalan Kusumanegara sambil diliputi rasa takut. Mereka pun akhirnya berlari dan dikejar oleh petugas polisi dari belakang.

Sempat terdengar petugas polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara. Polisi akhirnya berhasil menangkap mereka. Salah satu di antaranya bahkan menjadi korban pengeroyokan.

Sementara, 4 mahasiswa lainnya ditangkap usai meninggalkan asrama. Mereka diketahui bernama Adius Kutligagal, Obet Hisage, Terry Aud dan Demianus Dabi.

Menurut informasi dari juru bicara Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat, Roy Karoba, semula keempat rekannya itu diminta untuk berbelanja kebutuhan dapur di Pasar Giwangan.

“(Hasil belanja digunakan) untuk masak dan makan teman-teman di asrama,” kata pria yang menjadi penyelenggara aksi di dalam asrama.

Belum diperoleh informasi apakah mereka ditangkap saat pergi menuju ke pasar atau usai pulang dari sana.

“Yang jelas kami terima kabar, mereka saat ini berada di Polda DIY,” tuturnya.

Rappler sempat mendengar informasi adanya penangkapan belasan mahasiswa Papua yang ditangkap di tempat terpisah. Tetapi, informasi tersebut belum bisa dikonfirmasi. Sementara, saat Rappler mencoba mengkonfirmasi kepada polisi, belum ada respons.

Ormas ikut mengepung asrama

Selain petugas kepolisian, anggota organisasi masyarakat pun ikut mendatangi asrama mahasiswa Papua. Puluhan orang berseragam Pemuda Pancasila, Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia dan Paksi Katon berdemonstrasi di depan asrama.

Mereka berkumpul di Jalan Kusumanegara sekitar pukul 10:00 WIB. Massa menuding acara yang digelar di dalam asrama sejak hari Rabu kemarin terkait dengan agenda separatisme.

Polisi sudah berupaya menghadang mereka di persimpangan Jalan Kusumanegara dengan Jalan Glagahsari yang ada di bagian timur Asrama Papua. Tetapi, sekitar pukul 11:00 WIB, massa ormas itu merangsek ke arah barat dan berbaris di depan asrama. Mereka sempat memaksa masuk ke dalam asrama dan berupaya menjebol pintu gerbang.

Acara yang digelar di dalam Asrama Papua bertajuk Aksi Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat dan telah digelar sejak Rabu, 13 Juli. Mereka menggelar panggung budaya, mimbar bebas, dan aksi damai hingga hari Sabtu esok.

Acara tersebut berkaitan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesia Spearhead Group (MSG) di Honiara, Solomon Island yang digelar pada 14-16 Juli. Salah satu agenda dari KTT tersebut yakni membahas keanggotaan bagi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Organisasi itu ingin menjadi anggota penuh kelompok negara MSG.

Aksi itu juga bertepatan dengan peringatan 47 tahun Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tanggal 14 Juli.

(Rappler)

Mahasiswa Asal Papua Diminta Keluar Dari Yogya Jika Ingin Merdeka

Last modified on 2016-07-15 09:02:16 GMT. 8 comments. Top.

g

Ratusan aparat kepolisian disiagakan di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, tepat di depan asrama mahasiswa Papua untuk mengantisipasi rencana unjuk rasa mahasiswa pro-Papua Merdeka, Jumat, 15 Juli 2016.

Tampak ratusan aparat, dan mobil water cannon sudah disiapkan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Untuk mengantisipasi keamanan, polisi juga menutup ruas Jalan Kusumanegara.

Aparat kepolisian juga dibantu anggota organisasi masyarakat berseragam loreng hitam-jingga, ikut menantikan unjuk rasa dari depan pagar Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I. Mereka membawa serta spanduk bertuliskan “warga Jogja tolak separatis OPM”, dan “separatis keluar dari Jogja”.

Saat beberapa aktivis pro-Papua Merdeka mendekati gerbang asrama dan memulai unjuk rasa. Mereka pun meneriakkan yel agar Papua bisa memisahkan diri keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Teriakan aktivis ini dibalas anggota ormas pendudukung NKRI seperti Pemuda Pancasila dan Paksi Kraton, dengan meminta mereka keluar dari Yogyakarta jika ingin merdeka.

“Keluar dari Yogya, keluar dari Indonesia,” teriak massa dari ormas pro NKRI.

Ketegangan antara kedua kubu yang berseberangan ini membuat polisi siaga. Mesin mobil water cannon yang sebelumnya mati, langsung dihidupkan. Aparat pun bergegas merapatkan barisan penjagaan di depan gerbang asrama.

Untuk menjaga keamanan unjuk rasa dua kubu yang berseberangan ini, Kepala Biro Operasional Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Kombes Pol. Bambang Pristiwanto, langsung terjun ke lapangan memantau jalannya aksi.

c d e f

MSG Tangguhkan Keanggotaan ULMWP Hingga September 2016

Last modified on 2016-07-14 16:07:59 GMT. 0 comments. Top.

Untitled

(Dok. Dubes Desra, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia saat mengikuti KTT MSG/Papuanews.id)

Direktur Jenderal Melanesian Spearhead Group (MSG) Peter Forau menangguhkan keanggotan penuh Gerakan Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Sesuai yang dijanjikan, seharusnya hasil keputusan pertemuan MSG di Honiara, diumumkan sore ini juga (15/07). Namun, Peter Forau memutuskan untuk menunda penentuan, sebagaimana selama ini tidak ada panduan tetap perihal syarat-syarat mendapatkan keanggotan penuh di lembaga internasional tersebut.

Indonesia sendiri dalam pertemuan ini diwakili oleh Dubes Desra, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Dengan demikian, isu pengajuan status ULMWP menjadi lebih dari observer akan kembali dipertimbangkan pada pertemuan istimewa MSG selanjutnya di Port Villa, Vanuatu pada September mendatang.

Indonesia sendiri memandang ULMWP sebagai gerakan separatis. Setahun lalu gerakan separatis yang ingin mendapatkan pengakuan internasional dan kesetaraan status diplomatik itu sudah mendapatkan statusnya sebagai pengamat (observer). Tahun ini mereka ingin status lebih, dan sudah mendapat dukungan dari Kepulauan Solomon dan Front Pembebasan Nasional Kanak dan Sosialis (FLNKS).

Dukungan juga datang dari Gereja Katolik di Papua Nugini, yang berharap MSG mau mempertimbangkan untuk mengabulkan permohonan ULMWP. Dilansir dari Radio New Zealand, Uskup Agung Port Moresby, Sir John Ribat berujar NGO itu seharusnya dibiarkan menentukan nasibnya sendiri karena mereka mewakili penduduk asli Papua, yang masuk golongan Melanesia.

Seperti yang dijelaskan juru bicara Kemenlu Armanatha Nasir, ULMWP sebatas NGO yang bukan mewakili suatu kawasan ataupun negara. Sementara MSG merupakan organisasi internasional yang bertujuan untuk membangun kesejahteraan dan perekonomian. Hal yang menurutnya, tidak menjadi perhatian kelompok separatis tersebut.

MSG terdiri dari empat negara di Melanesia, yaitu Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Vanuatu. Plus satu lembaga tambahan, FLNKS dari Kaledonia Baru. FLNKS diketahui juga tergolong NGO separatis di negaranya.

 

KPUD Dogiyai Minta Warga Bersabar Menunggu Pengumuman Anggota PPD Yang Lulus Wawancara

Last modified on 2016-07-14 14:38:39 GMT. 0 comments. Top.

kpu dogiyai

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) kabupaten Dogiyai Papua, telah menggelar tes wawancara kepada calon anggota Panitia Pemilihan Distrik kabupaten Dogiyai, selama 2 hari, bertempat di SMP YPPK Moanemani Dogiyai.

Tes wawancara tersebut dilakukan kepada 10 orang yang sebelumnya telah berhasil lulus seleksi administrasi dan tes tertulis.

Menurut Ketua Pokja Perekrutan PPD kabupaten Dogiyai, Moses Magai S.Ip, hasil dari tes wawancara rencananya akan diumumkan secepatnya dan para peserta diminta menunggu dengan sabar. Sebelum memasuki tahapan berikut, yakni penentuan 5 besar, akan dibuka ruang tanggapan warga masyarakat kepada para calon anggoa PPD.

Lebih lanjut menurut Moses Magai, pada perekrutan ini,  penilaian para calon PPD menggunakan sistem rangking dan nilainya tertinggi itu yang akan diluluskan dalam 5 besar setiap Distrik.

Dirinya bersama KPUD Dogiyai siap menawal dan menyukseskan Pilkada Dogiyai 2017.

Polres Mimika Tangkap 2 Petinggi KNPB

Last modified on 2016-07-13 14:05:58 GMT. 0 comments. Top.

c

(Dok.Anginselatan.com)

Polres Mimika menangkap Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Yanto Awerkion, dan sekretarisnya Sem Ukago pada Selasa (12/7/2016).

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan, keduanya diduga menjadi provokator dalam gerakan mendorong pembebasan Papua Barat.

“Ada dua orang yang merupakan pelaku pengerahan massa dalam kaitannya untuk memisahkan diri dari NKRI,” ujar Martinus di kantornya, Rabu (13/7/2016).

Selain Yanto dan Sem, polisi juga menangkap 67 anggota KNPB lainnya yang tengah melakukan demo mendorong United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) untuk masuk dalam keanggotaan Perkumpulan Negara Melanesia. Tujuannya agar masalah referendum Papua bisa dibahas ke PBB.

“Kami melakukan pemeriksaan terhadap 69 yang diamankan, termasuk YA dan SU,” kata Martinus.

Martinus mengatakan, para aktivis KNPB menyebarkan selebaran untuk memprovokasi dan melakukan demo. Hingga saat ini, polisi belum menentukan status hukum terhadap Yanto dan Sem. Sementara 67 aktivis lainnya satu persatu sudah dilepaskan.

“Dua orang ini dan beberapa simpatisannya melakukan unjuk rasa dan demonstrasi untuk menggalang upaya memisahkan diri,” kata Martinus.

Jika terbukti melakukan penghasutan, maka Yanto dan Sem akan dikenakan Pasal 169 KUHP yang isinya jika turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan, atau turut serta dalam perkumpulan lainnya yang dilarang oleh aturan-aturan umum, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.

Sementara jika turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan pelanggaran, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.

Menurut Martinus, jika ULMWP bergabung dalam Perkumpulan Negara Melanesia, maka mereka mendapatkan hak suara untuk mendorong pembebasan Papua Barat.

“Kalau nanti hak suara itu muncul, maka nanti akan ada klausul untuk memisahkan diri sehingga perlu kami lakukan upaya untuk menghentikan,” kata Martinus.

Sebelumnya, Polres setempat pernah menangkap 1.004 anggota KNPB di daerah Sentani. Alasannya penangkapan sama, mereka mendorong agar ULMWP masuk ke Perkumpulan Negara Melanesia.

(Kompas)

Silahkan Komentar

Komentar Anda

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226