INFO PAPUA

Papua & Papua Barat Terlambat Terima Raskin

Last modified on 2013-11-10 01:37:15 GMT. 0 comments. Top.

Penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) di provinsi Papua & Papua Barat mengalami keterlambatan karena terkendala masalah geografis.

“Yang terlambat penyalurannya Papua & Papua Barat,  2 provinsi lainnya yang juga senasib dengan Papua & Papua Barata yakni provinsi Maluku Utara dan NTT. Memang kendalanya karena letak geografis,” kata Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial Hartono Laras di Jakarta, Jumat.

Hartono menjelaskan untuk penyaluran raskin yang reguler sudah mencapai 92 persen dari 15,5 juta penerima raskin.

Prioritas utama Kementerian Sosial dalam program raskin adalah ketepatan sasaran dan jumlah beras yang diterima.

Menurut Hartono, dari hasil evaluasi yang dilakukan, terjadi peningkatan jumlah beras yang diterima rata-rata delapan kilogram dari 15 kg yang seharusnya diterima.

“Kita ingin tingkatkan jumlah beras yang diterima sampai 15 kg, memang sulit tapi sudah meningkat dibandingkan sebelumnya,” tambah dia.
Anggaran raskin sangat besar mencapai Rp17,197 triliun untuk 15,5 juta rumah tangga sasaran, meningkat menjadi Rp21,5 triliun dan penerima menjadi 30 kg sebagai kompensasi kenaikan harga BBM.

Pada penyaluran raskin 2013, Kementerian Sosial menjadi Kuasa Pemegang Anggaran (KPA) sementara penyalurannya tetap dilakukan Perum Bulog.

Setiap rumah tangga sasaran mendapat 15 kg raskin setiap bulan dengan menebus Rp1.600 per kg sementara subsidi pemerintah sebesar Rp7.751.86 per kg.

Asmat Yang Damai Dan Teduh

Last modified on 2013-11-09 06:26:47 GMT. 0 comments. Top.

a

Rawa kecoklatan, hijau rimbun dedaunan, dan biru langit menyambut kami di Asmat, Papua. Beberapa kali terlihat elang terbang mengitari sarang. Itulah panorama Asmat yang menyegarkan mata, mendamaikan pikiran.

Kami menyusuri potong Famborep di Kabupaten Asmat, Papua, Agustus lalu. Sungai itu terasa teduh oleh kanopi dedaunan. Kami pun terlindung dari sengatan matahari. Longboat yang dikemudikan Nelson, motoris Keuskupan Agats, meliuk-liuk mengikuti aliran kali. Tikungan tajam, pohon tumbang, dan dangkalnya air menjadi tantangan. Air terbelah saat mesin 55 PK menderu kencang. Beberapa kali Nelson mengurangi laju perahu saat berpapasan dengan perahu lain.

Sensasi keteduhan dan ketenangan kali potong itu kemudian berganti arus bergelombang saat kami memasuki Sungai Jetsy yang lebih lebar. Kami langsung melipat tangan dan badan agar terlindung dari sengatan matahari. Setelah melaju dengan longboat selama 4 jam, kami tiba di Dermaga Atsj di pinggir Sungai Bets. Riuh anak sekolah berebut permen menyambut kami.

Sama seperti di Agats, warga Atsj juga jarang menginjakkan kaki ke tanah. Jalan, lapangan, halaman, dan rumah semuanya dibangun di atas tanah rawa berlumpur yang tebal. Hamparan papan kayu besi sekitar 1,5 meter di atas tanah bagaikan karpet merah bagi tamu yang datang ke Atsj.

Entah berapa banyak pohon yang ditebang untuk membangun Atsj dan daerah lain di Asmat. Hampir tidak ada bangunan semen dan batu bata, semuanya dari kayu. Namun, mulai tahun 2011, di Agats yang menjadi ibu kota Kabupaten Asmat, pemerintah membangun jalan beton beraspal sepanjang 1 kilometer. Tidak seberapa memang jika dibandingkan total jaringan jalan di Agats yang mencapai 17 kilometer.

Butuh penyesuaian saat mulai menyusuri jalanan tanpa pagar pengaman. Walaupun selebar 2 meter, tetap saja mata terpaku ke jalanan, takut terperosok dan jatuh ke lumpur. Apalagi, ditambah dengan bunyi berderit dan kayu beradu setiap kali kaki melangkah.

Sore itu, kami berjalan menyusuri hamparan papan kayu besi menuju Paroki Atsj, tempat kami menginap. Sapaan ”selamat sore” terucap dari semua orang yang berpapasan sepanjang perjalanan kami menuju tempat menginap. Aneh juga rasanya karena tiada hentinya membalas ”selamat sore” kepada orang yang belum kenal.

Memang, orang Asmat terkenal akan keramahannya. Siapa pun kita, pasti akan mendapat sapaan serupa dari warga. Bahkan, sepanjang perjalanan dari Agats menuju Atsj, banyak warga yang melambaikan tangan ke arah kami. Kami membalas dengan lambaian tangan.

Gelap mulai datang, lampu-lampu senter milik warga mulai menerangi jalanan. Listrik memang terbatas di Asmat dan hanya tersedia dari jam enam sore hingga tengah malam. Kami memasak ikan kerapu di dapur pastoran. Ikan itu kami beli dari penduduk dalam perjalanan menuju Atsj.

Ukiran dan perahu

b

Keesokan harinya, kami melihat kegiatan warga memahat ukiran di sanggar seni Asmat. Karya ukiran itu jugalah yang membuat Michael Rockefeller, putra Gubernur New York, Amerika Serikat, Nelson Rockefeller, datang ke Asmat untuk kedua kalinya pada tahun 1961. Ia ingin melengkapi koleksi keunikan ukiran Asmat yang akan dipamerkan di Museum Primitive Art, New York. Sayang, ia tewas di belantara Asmat dalam ekspedisi tersebut. Namun, berkat jasa-jasanya, Asmat dikenal dunia dan dianggap sebagai situs warisan dunia yang harus dilestarikan.

Pagi itu, enam pematung tekun mengerjakan ukiran mereka untuk diikutkan dalam seleksi Pesta Budaya Asmat Ke-27. Pesta yang diselenggarakan pada 9-14 Oktober lalu itu untuk mewadahi dan memperkenalkan kebudayaan Asmat kepada dunia luar. Bukan itu saja, ukiran hasil seleksi akan dilelang dengan nilai fantastis.

Dari kayu yang diukir, tidak terlihat gambar pola yang biasa dibuat sebelum diukir. Pikiran, mata, dan tangan mereka menyatu dengan pisau pahat yang terus bekerja. Imajinasi mereka terus mendampingi selama mengukir. Ketekunan dan kerja keras imajinasi mereka membuahkan hasil karya yang luar biasa.

Ukiran mempunyai peran penting dalam kehidupan orang Asmat. Ukiran hadir pada tifa, tameng, perahu, bahkan dayung. Awalnya, ukiran Asmat dibuat untuk mengenang dan menghadirkan roh leluhur. Seiring perkembangan zaman, tema ukiran berkembang. Sekarang ini banyak ukiran dibuat untuk melukiskan kehidupan sehari-hari.

Sama seperti ukiran, perahu juga mempunyai peran penting dalam kehidupan orang Asmat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Selain sebagai alat transportasi, perahu dari satu batang pohon berukuran besar juga digunakan untuk berburu dan berperang. Bahkan, sejumlah orang menganggap perahu Asmat adalah jew (rumah adat warga Asmat) berjalan. Aspek gotong royong dalam perahulah yang membuatnya disebut demikian.

Untuk membuat perahu dibutuhkan sedikitnya lima orang. Di Distrik Sawa Erma, Asmat, kami melihat setiap orang mempunyai peranan masing-masing dalam proses pembuatan perahu. Ada yang berperan sebagai pembuat cekungan di batang pohon, menghaluskan, dan juga membuat ukirannya. Saat perahu digunakan, lima hingga enam warga mendayung bersama. Nilai kebersamaan tergambar dari perahu tradisional Asmat.

Bagi sejumlah warga, saat ini kebersamaan dan gotong royong semakin luntur dengan banyaknya bantuan perahu fiber bermesin dari pemerintah. Semangat mendayung bersama mulai digantikan dengan uang bensin. Warga menyebut pengguna perahu fiber dengan ”pantat fiber”. Ya, karena mereka tinggal duduk dan menarik gas, bukan berdiri dan mendayung bersama.

Asmat memang berhadapan dengan perubahan zaman dan gaya hidup. Semoga keteduhan dan keguyuban warga tidak berubah.

(Sumber : Kompas/Widiantoro)

Stok Bahan Pokok Di Papua Masih Aman Hingga Natal & Tahun Baru

Last modified on 2013-11-09 06:18:05 GMT. 0 comments. Top.

Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Papua, memberikan jaminan dan garansi ketersediaan stok bahan pokok di “bumi cenderawasih” aman hingga perayaan hari raya Natal dan Tahun Baru.

Kepastian ini menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Papua, Septinus Hamadi, didapat usai dirinya bersama staf melakukan pengecekan ketersediaan stok di sejumlah pasar maupun distributor penyalur minuman dan makanan yang ada di Jayapura, baru-baru ini.”Jadi ketersediaan stok saya kira cukup ya sampai Natal. Sebab kita baru-bari ini melakukan pengecekan di lapangan,” kata dia, saat diwawancara pers di Kantor DPR Papua, Jumat (1/11).

Meski telah memastikan ketersediaan stok bapok cukup, lanjut Septinus, dalam pertengahan bulan ini pihaknya bersama Gubernur Papua dan instansi terkait bakal kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna melihat lebih dekat sejauh mana ketersediaan bapok dan komoditi pendukung lainnya.

Tentu kita akan sidak lagi untuk memastikan ketersediaan stok. Dan nantinya sidak kali ini pasti dipimpin oleh bapak Gubernur. Ini penting sebab kita mau lebih memastikan ketersediaan stok apakah cukup atau tidak,” ujarnya. Dikatakan Kepala Dinas, hal yang perlu dikhawatirkan saat ini sebenarnya bukanlah ketersediaan stok, melainkan harga jual Bapok yang ditakutkan bakal melambung tinggi sehingga akan membebani masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah. “Jadi sekali lagi yang kita perlu takutkan saat ini adalah harga jual bukan stok. Sebab kalau stok saya sudah cek itu cukup bahkan kita turun sampai pada tingkat distributor, mereka masih siap terutama Sembako. Jadi sekali lagi stok tidak ada masalah yang kita takut harga naik tinggi,” terangnya.

Disinggung tentang kendala bagi pemasok untuk bongkar muat di pelabuhan, Septinus mengaku hal tersebut sudah ada langkah-langkah maupun prosedur penanganannya. “Soal di pelabuhan bila ada masalah maka secara otomatis saya akan melakukan pengecekan di pelabuhan. Tapi yang jelas sudah ada prosedur penanganannya untuk mempercepat bongkar muat dan tentu ada pengkhususan sebab ini untuk kepentingan yang lebih besar yaitu memenuhi kebutuhan masyarakat,” paparnya.  Terakhir Septinus menghimbau kepada pihak pedagang agar tidak menaikan harga bapok karena dapat membebani masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah.

OPM Buka Kantor Dimana-Mana

Last modified on 2013-11-09 03:11:13 GMT. 0 comments. Top.

Untuk terus menyuarakan perjuangan Papua merdeka dan menggalang dukungan dari individu, kelompok maupun negara resmi, aktivis Beny Wenda gencar membuka kantor perwakilan (kantor cabang-red) di beberapa negara, mulai dari daratan Eropa, Australia, Asia, sampai kawasan Pasifik.

Sebagaimana dilansir tabloidjubi.com, Rabu (6/11) kemarin, kembali lagi Benny Wenda meresmikan kantor perwakilan Free West Papua Campaign (FWPC) atau kantor Kampanye Pembebasan Papua Barat di Papua Neuw Guinea (PNG).

Kegiatan Kampanye yang dinamakan “Sorong to Samarai” itu digelar bersama Partners with Melanesian,  secara resmi dilaunching di Conference Room, Hohola Industrial Center, Port Moresby, PNG.

“Bersama launching kampanye ini, juga diresmikan kantor pusat Pembebasan Papua Barat di Port Moresby. Kegiatan lainnya dalam launching ini adalah Kuliah umum dan lokakarya tentang Papua Barat serta pertemuan dengan anggota parlemen Papua Nugini dan pejabat publik yang dimaksudkan untuk melobi anggota parlemen nasional PNG bergabung dalam Parlemen Internasional untuk Papua Barat.” kata Fred Mambrasar, juru bicara kampanye, melalui handphone sebagaimana dirilis Jubi (6/11).

Benny Wenda dalam konferensi pers usai launching di kantor Partners with Melanesian (5/11) mengatakan ia akan memobilisasi warga PNG dan Politisi PNG untuk mendukung kampanye yang sedang dijalankan ini. Ia mengangkat isu populasi rakyat Papua Barat yang mengalami penurunan.

“PNG dan Papua Barat lama memiliki satu tanah tanpa batas kolonial dan memiliki populasi sebesar. Namun, saat ini populasi rakyat Papua Barat secara drastis menurun sementara PNG meningkat.” kata Benny Wenda.

Sedangkan Tony Fofoe, juru kampanye Papua Merdeka di PNG, meminta pemerintah PNG untuk memberikan dukungan penuh kepada Papua Barat untuk menjadi anggota penuh dari kelompok ujung tombak Melanesia (MSG).

“Kantor West Papua di PNG ini akan membantu dalam menciptakan kesadaran dan mendidik Papua Nugini yang masih membantah beberapa hak yang paling dasar atas penderitaan masyarakat Melanesia di Papua Barat. Pemerintah PNG kami minta untuk memberikan dukungan pada Papua Barat menjadi anggota penuh MSG.” kata Fofoe.

Sebelumnya , kantor perwakilan Papua Merdeka secara resmi dibuka di Oxford, Inggris pada 28 April lalu, yang dihadiri (Plt) Walikota Oxford Mohammaed Niaz Abbasi, anggota Parlemen Inggris, Andrew Smith, dan mantan Walikota Oxford, Elise Benjamin.

Andrew Smith dalam kesempatan tersebut, menegaskan kembali komitmennya untuk terus membantu Papua melalui Parlemen Internasional Untuk Papua yang telah dibentuk dua tahun lalu.

Pihak Inggris, melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia sudah menyatakan bahwa dibukanya kantor perwakilan OPM di Oxford, tak bisa dilihat sebagai cerminan sikap Inggris. Pemerintah Inggris juga tak bisa mengarahkan Dewan Kota Oxford yang mengijinkan berdirinya kantor tersebut di Oxford, Inggris.

Pembukaan Kantor Free West Papua Campaign (FWPC) juga dilakukan Benny Wenda pada 15 Agustus lalu di Den Haag.

Oridek Ap selaku koordinator ketika itu menyampaikan bahwa pembukaan kantor ini untuk menjelaskan kepada Pemerintah Belanda bahwa mereka telah diam dan bersembunyi selama bertahun-tahun.

Dalam wawancaranya dengan radio Selandia baru, Oridek Ap mengatakan kantor baru di Den Haag dibuka untuk mencari dukungan seluas – luasnya bagi kemerdekaan Papua.

“dukungan kami masih terus berkembang kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan karena jika Anda pergi keluar di jalan-jalan tidak ada yang tahu Papua Barat, kita perlu untuk menceritakan kisah dari awal. Jadi tugas kita untuk menginformasikan tentang sejarah kami, kisah Papua Barat. Itu, sebabnya mengapa kami pikir akan lebih efisien dengan membuka kantor sehingga orang akan tahu bahwa ada sebuah kantor di mana kita bisa memberikan orang untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang situasi di Papua Barat tentang mengapa orang-orang di Papua Barat sedang  berjuang untuk kebebasan”, jelas Oridek Ap ketika itu.

Selain kedua negara diatas, Benny Wenda juga telah mendirikan beberapa kantor perwakilan FWPC di beberapa negara lainnya seperti Australia, Vanuatu, dan yang terbaru kemarin adalah di PNG.

(Sumber : SuluhPapua)

4 Anggota TPN-OPM Dijebloskan Penjara

Last modified on 2013-11-09 03:07:19 GMT. 0 comments. Top.

1

Empat orang yang sebelumnya ditangkap lantaran dicurigai sebagai anggota TPN-OPM, akhirnya divonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas 1 A Jayapura, Kamis (7/11). Para terdakwa dijerat dengan pidana pasal  110 KUHP ayat 1 (jo) 106 KUHP dengan hukuman pidana yang berbeda. Untuk tiga terdakwa masing-masing, Isak Demetouw, Nikodemus Sosomar dan Soleman Teno dihukum pidana penjara selama 2 tahun 2 bulan. Sedangkan satu terdakwa lainnya, Daniel Nerotou, divonis 1 tahun penjara.

Vonis yang diberikan kepada 3 terdakwa ini lebih ringan dua tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Toman Ramandey, S.H., yang menuntut ketiganya diganjar empat tahun penjara. Majelis Hakim yang diketuai Dolman Sinaga, S.H., mempertimbangkan sikap para terdakwa yang selama persidangan cukup kooperatif.

Berdasar keterangan di ruang sidang, perkara ini berawal pada, 3 Maret 2013, saat Anggota Satgas Yonif 755 Yalet yang saat itu tengah berjaga di Pos Satgas, Kampung Nengke, Distrik Pantai Timur Kabupaten Sarmi, mendapat laporan dari warga yang melihat ada anggota TPN-OPM yang tengah melintas di jalan menuju Kampung Yamna.

Petugas kemudian menindak lanjuti laporan warga dengan melakukan pengejaran terhadap orang yang dimaksud.
Setelah dilakukan pengejaran, kemudian didapati dua buah sepeda motor yang ditumpangi oleh para terdakwa yang selanjutnya ketika dimintai untuk menunjukkan KTP, namum tidak memiliki kartu identitas, sehingga oleh petugas dilakukan penggeledahan. Dalam penggeledahan kemudian ditemukan uang tunai Rp20 juta, catatan hasil pertemuan tentang pelaksanaan pesta mama Papua, Kartu Anggota TPN-OPM atas nama Nikodemus Sosomar yang telah jadi terdakwa.

Selain itu, petugas juga menemukan satu buah atribut bendera Bintang Kejora berukuran kecil, sangkur komando dan kemudian setelah dilakukan pemeriksaan di jok motor yang ditumpangi terdakwa, didapati pula 3 buah botol berisikan serbuk belerang. Semua temuan petugas kini telah menjadi barang bukti atas perbuatan para terdakwa.

(Sumber : BintangPapua)

Gubernur Papua : Otsus Plus Salah Dipergunakan Oleh Orang Asli Papua Sendiri

Last modified on 2013-11-08 14:04:33 GMT. 3 comments. Top.

9

Gubernur Papua menanggapi aksi demo yang dilakukan oleh Gempa, terkait Otonomi Khusus Plus.

Gubernur Papua, Lukas Enembe saat ditemui sejumlah mahasiswa, mengatakan Otsus Plus yang diberikan Pemerintah Pusat, salah dipergunakan oleh Orang Asli Papua. Otsus Plus yang diberikan oleh Pemerintah Pusat, juga menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat Papua.

Pertemuan Mahasiswa dengan Gubernur untuk meminta agar Gubernur menolak Otsus Plus yang dinilai telah gagal sejak tahun 2001.

Gubernur Papua menambahkan Otsus Plus yang diberikan oleh Pemerintah Pusat, seharusnya dipergunakan dengan baik sehingga tidak terjadi pro dan kontra.

Dinas Pendidikan Provinsi Papua Alokasikan Anggaran Total 20 Miliar Untuk Pembangunan Rumah Guru

Last modified on 2013-11-08 02:26:32 GMT. 0 comments. Top.

rumah guru

Dinas Pendidikan Provinsi Papua mengalokasikan dana Rp 800 juta hingga Rp 1 miliar untuk membangun rumah guru dan kepala sekolah di setiap kabupaten. Anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan itu diperkirakan mencapai Rp 20 miliar untuk 20 kabupaten.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Elias Wonda mengatakan, dana pembangunan rumah guru dan kepala sekolah di setiap kabupaten alokasinya bervariasi, tergantung dari kondisi geografis kabupaten tersebut.

“Ada berapa sekolah sudah bangun rumah guru termasuk rumah kepala sekolah. Tahun ini juga akan bangun, hampir di 20 kabupaten lebih itu masuk di masing-masing kabupaten. Kabupaten satu, dua rumah guru dengan satu rumah kepala sekolah. Satu rumah guru 800- 1 miliar, termasuk asrama,” jelas Elias Wonda di Jayapura, Kamis (7/11).

Komisi Pendidikan DPR Papua mengklaim walaupun pemerintah setempat telah memberikan fasilitas bagi para guru seperti perumahan, tetap saja fasilitas itu tidak digunakan dengan baik. Apalagi saat ini lebih banyak guru yang dikontrak dan jumlahnya hingga ribuan. Namun dalam kenyataannya, kinerja para guru di lapangan tak pernah ada di tempat.

Komisi ini mendesak harus ada sanksi tegas yang diberikan bagi para guru yang meninggalkan tempat tugasnya.

Silahkan Komentar

Komentar Anda

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264