Mengenal Tradisi Petuanan di Fakfak

(Foto Tanjung Wagom Fakfak tahun 1967/Foto.Istimewa)

Fakfak – Kabupaten Fakfak, Papua Barat, memiliki tujuh kerajaan atau dalam bahasa setempat disebut dengan Petuanan yang dipimpin oleh seorang raja.

Petuanan ini yaitu Petuanan Ati-Ati di Werpingang, Petuanan Fatagar di Fakfak, Petuanan Arguni di Arguni, Petuanan Sekar di Kokas, Petuanan Wertuer di Kokas, Petuanan Rumbati di Rumbati dan Petuanan Patipi di Patipi Pasir.



Tujuh petuanan terdiri dari beberapa suku asal yaitu Suku Mbaham, Suku Ma’ta, Suku Mor, Suku Onim, Suku Irarrutu dan Suku Arguni serta memiliki bahasa masing-masing.

Wilayah masing-masing petuanan sangat erat kaitannya dengan adat istiadat petuanan. Petuanan Ati-Ati wilayah adatnya di Distrik Fakfak Barat, Distrik Wartutin, Distrik Fakfak Timur, Distrik Karas dan Distrik Fakfak Timur Tengah.

Petuanan Fatagar wilayah adatnya di Distrik Fakfak dan Distrik Pariwari. Petuanan Arguni wilayah adatnya mulai dari pesisir Pantai Arguni hingga kawasan Distrik Bomberay.

Petuanan Sekar dan Wertuar dengan wilayah adatnya di Distrik Kokas, Distrik Kayauni dan Distrik Kramongmongga. Petuanan Patipi dan Rumbati dengan wilayah adat di Distrik Teluk Patipi dan Distrik Furwage.

Sejarah petuanan ini terbentuk pada abad ke-16, saat itu pemimpin-pemimpin Semenanjung Onin, di kawasan Teluk Berau mengunjungi Kerajaan Bacan, di Maluku Utara. Dari kunjungan itu terbentuklah kerajaan-kerajaan atau petuanan di Fakfak.

Pada awalnya, letak pusat-pusat petuanan tersebut saling berdampingan di ujung barat Semenanjung Onin. Sekitar 1878, petuanan Fatagar dan Atiati bergeser ke Pulau Ega.

Dalam perkembangannya kemudian, Raja Atiati memindahkan pusat kerajaan ke suatu tempat di daratan Semenanjung Onin. Kawasan ini lalu disebut dengan Atiati, berseberangan dengan Pulau Ega. Sedangkan Raja Fatagar memindahkan pusat kekuasaanya ke Merapi, di timur Distrik Fakfak kini.

Peruanan-petuanan di Fakfak memiliki sejarah panjang dalam membentuk peradaban Islam di Fakfak, Papua Barat.

[Nabire.Net/Hari Suroto]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *