Mengenal Tradisi Bakar Batu Suku Dani Di Lembah Baliem Papua

(Foto.Istimewa)

Jayawijaya – Upacara bakar batu dilakukan oleh suku Dani di Lembah Baliem, Papua, salah satunya berfungsi sebagai bentuk perdamaian untuk mengakhiri permusuhan akibat perang suku atau untuk menyelesaian suatu permasalahan lainnya yang melibatkan orang banyak.

Upacara ini dilaksanakan melalui suatu persiapan yang cukup panjang dan sepekan sebelum dilakukan upacara, kaum laki-laki disibukkan dengan menyiapkan kayu dan batu yang tidak mudah pecah saat dibakar.

Bagi kaum perempuan bertugas mengumpulkan ubi jalar, keladi dan satur-sayuran. Setelah semuanya siap, maka ritualpun segera dilakukan.

Babi-babi yang di bawa ke tengah lapangan yang dikelilingi para tamu untuk dipanah dan dipotong. Selain itu juga disiapkan seekor babi besar yang dipotong khusus dipersembahkan bagi roh nenek moyang, potongan daging babi ini diletakkan di bawah pohon yang dianggap sakral.



Memasak dengan bakar batu diawali dengan membuat lubang dalam tanah. Lubang ini dialasi rumput alang-alang, kemudian diisi dengan batu merah membara yang sebelumnya telah dipanaskan dalam api. Di atas batu panas ditaruh rumput alang-alang, setelah itu diatasnya diletakkan ubi jalar, di atas ubi jalar ditutup dengan rumput, diatasnya ditaruh batu panas lagi kemudian ditutup lapisan rumput, setelah itu diletakkan daun ubi jalar dan sayur-sayuran lainnya.

Diatasnya ditutup dengan rumput dan diletakkan batu panas lagi, kemudian ditutup dengan daun pisang dan diatas daun pisang ditaruh daging babi yang sudah disiapkan. Selanjutnya ditutup rumput lagi dan diletakkan batu panas lagi. Kemudian ditutup dengan rumput untuk menghindari keluarnya uap panas.

Setelah menunggu 1 jam, tumpukan tadi siap dibuka, bahan makanan yang telah masak akan dibagi secara bersama-sama dan akan dimakan bersama-sama.

Bakar batu adalah kerjasama dari persiapan, proses bakar batu serta pembagian hasil bakar batu dan kebersamaan saat menikmati hidangan bakar batu.

Bakar batu merupakan momen yang akan dipergunakan sebaik mungkin agar dapat menikmati makanan bersama-sama dengan keluarga besar untuk kembali merasakan keutuhan keluarga.

Bakar batu merupakan momen yang dapat mempererat tali persaudaraan dan mengikat satu sama lain karena dalam proses bakar batu ini dilakukan secara bersama-sama, gotong royong, dan saling tolong menolong.

*Penulis Hari Suroto, Peneliti Balai Arkeologi Papua, Dosen Antropologi Uncen

[Nabire.Net]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *