Menelusuri Jejak Misionaris Asing di Kelila Mamberamo Tengah

(Distrik Kelila Mamberamo Tengah/Foto,Facebook)

Mamberamo Tengah – Kelila adalah nama sebuah Distrik di kabupaten Mamberamo Tengah yang terletak 1280 meter di atas permukaan laut. Kondisi lingkungan yang subur, dan keberadaan sungai sumber air, menjadikan Kelila sebagai lokasi yang dipilih manusia sebagai tempat beraktivitas pada masa prasejarah.

Prof. Simon Haberle dari ANU College of Asia and the Pacific telah membuktikan dengan analisis polen, yang menunjukkan bahwa pembukaan lahan di wilayah ini untuk budidaya buah merah pernah berlangsung sekitar 7000 dan 5200 tahun yang lalu.

Pada masa pemerintahan Belanda (Nederlandse New Guinea), Gubernur van Wardenberg mengijinkan zending Asia Pacific Christian Mission (APCM) yang berasal dari Melbourne, Australia, membangun pos pekabaran Injil di Kelila, dengan pertimbangan bahwa Kelila merupakan wilayah yang terdapat pemukiman penduduk asli Mamberamo yang padat dan masih dalam taraf hidup prasejarah.

Selain itu juga berdasarkan pertimbangan keletakan Kelila yang memiliki tanah datar yang cocok dalam pembuatan lapangan terbang.

Mulanya masyarakat Papua dengan orang kulit putih tidak saling mengerti satu sama lain, sampai datangnya para misionaris yang melakukan kontak dengan kelompok-kelompok di pegunungan tengah Papua.

Pada masa awal dari hubungan jangka panjang ini, orang-orang Papua masih sulit untuk memutuskan apakah orang asing tersebut adalah jelmaan roh manusia. Tetapi setelah diam-diam memperhatikan para misionaris itu hidup sepert manusia biasa, mereka percaya bahwa misionaris hanyalah manusia biasa.

APCM membuka lapangan terbang di Kelila tahun 1959. Proyek ini dikoordinir oleh Bert Power, Lion Delinger, dan Garbert Ericson dengan tenaga kerja penduduk setempat.

Alat kerja yang digunakan adalah sekop yang dikirim dari Sentani. Alat yang digunakan sebagai absensi tiap hari bagi penduduk setempat yang mengerjakan lapangan terbang yaitu potongan aluminium berukuran 2 x 2 cm yang disebut dengan istilah teger.

Sore harinya penduduk mendapatkan upah garam atau mata uang kulit kerang yang disebut dengan yerak anggen. Lapangan terbang selesai dikerjakan dalam waktu tiga minggu dan diuji coba pendaratan pertama kali oleh pesawat Cessna 180 Skywagon milik MAF (Mission Aviation Fellowship) dengan pilot Dave Steiger.

APCM membangun sarana-sarana, baik yang difungsikan sebagai tempat tinggal dengan menggunakan konstruksi rumah yang berasal dari negaranya, lalu menyesuaikan dengan iklim tropis dan bahan-bahan lokal.

Ciri bangunan tropis dapat terlihat pada banyaknya jendela dan ventilasi yang memenuhi hampir semua sisi-sisi dinding. Adanya pintu, dan jendela kaca nako membuat sirkulasi udara yang masuk ke dalam ruangan cukup baik. Hal ini juga didukung oleh ruang-ruang yang ditata dengan baik dan ketinggian bangunan yang cukup.

Pada 19 Februari 1960 di Kelila terjadi pembakaran benda budaya yang dianggap berhala. Banda-benda yang dibakar terdiri atas busur, anak panah, tombak, pisau dari tulang dan batu dan hiasan kerang.

Pembakaran ini dilakukan di lapangan terbang Kelila, sisa pembakaran dikubur di sebelah selatan kolam pembabtisan, sejak saat itu tradisi penggunaan alat batu tergantikan oleh penggunaan peralatan dari besi.

[Nabire.Net/Hari.Suroto]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *