Masjid Patimburak, Simbol Toleransi 3 Agama Di Fakfak

(Masjid Patimburak Fakfak)

Fakfak – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi. Berbeda-beda tetapi tetap satu, beda tetapi tetap bersaudara. Nilai toleransi ini dapat dijumpai dalam budaya suku-suku dari Sabang hingga Merauke. Salah satunya adalah nilai toleransi ala satu tungku tiga batu di Fakfak, Papua Barat.

Terdapat tiga agama di Fakfak, yaitu Islam, Katolik, dan Kristen Protestan. Ketiga agama ini dianggap sebagai agama keluarga di Fakfak, sehingga muncul semboyan untuk mempererat harmonisasi antar sesama dan nama yang terkenal yaitu “Satu Tungku Tiga Batu, Satu Hati Satu Saudara”.

Kemajemukan masyarakat Fakfak, tetap memandang dirinya berasal dari satu rumpun kerabat, satu leluhur jauh sebelum ketiga agama tersebut berkembang di Fakfak. Hal yang lazim dijumpai di Fakfak adalah dalam suatu keluarga, terbagi ke dalam tiga agama berbeda.

Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, merupakan bukti toleransi beragama masyarakat setempat. Masjid Patimburak dibangun oleh Raja Pertuanan Wertuar pada 1870. Arsitektur masjid ini sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Jika dilihat dari kejauhan, masjid tersebut terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip arsitektur gereja-gereja di Eropa. Masjid Patimburak merupakan wujud dari nilai ‘satu tungku tiga batu’. Masjid Patimburak dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen Protestan atau Katolik.



Pada 1870, Islam, Kristen Protestan, Katolik sudah menjadi tiga agama yang hidup berdampingan di Pertuanan Wertuar. Satu tungku tiga batu mengandung arti ‘tiga posisi penting’ dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama. Ketiga batu ini, diletakkan dalam satu lingkaran dengan jarak satu sama dengan lainnya sehingga posisi ketiganya seimbang untuk menopang periuk tanah liat.

Tungku yang berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan untuk memasak.

Makna agama dalam konsep filosofi satu tungku tiga batu, bahwa ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang untuk menopang kehidupan dalam keluarga. Tiga agama ini yaitu Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Tidak jarang dalam satu keluarga di Fakfak terdapat tiga agama, tetapi mereka tetap hidup rukun dan damai disertai nilai-nilai toleransi yang tinggi.

Mereka tidak akan pernah terpengaruh oleh isu-isu, ataupun perselisihan terkait agama. Toleransi hidup beragama di Fakfak sangat kental dan tetap dipertahankan oleh masyarakat dan patut untuk dicontoh, sebagai bentuk keberagaman dan kebinekaan yang ada di Indonesia.

*Penulis, Hari Suroto, Peneliti Balai Arkeologi Papua, Dosen Antropologi Uncen

[Nabire.Net]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *