Kopi Dogiyai Perlu Dikembangkan Sebagai Komoditas Unggulan

(Tanaman kopi)



Jayapura – Kabupaten Dogiyai, Papua, dikenal sebagai penghasil kopi arabika terbaik di Indonesia. Kopi dari Dogiyai lebih dikenal dengan nama kopi Moanemani.

Moanemani merupakan jenis kopi arabika yang ditanam secara organik oleh petani tradisional suku Mee, di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Papua.

Kopi ini sangat terkenal bagi penikmat kopi di Eropa dan Amerika. Kopi Moanemani ditanam oleh petani suku Mee di kebun dekat hutan, lereng bukit maupun pekarangan rumah mereka.

Kopi ini pada awalnya diperkenalkan oleh misionaris pada tahun 1960-an. Pada waktu itu, pesawat kecil setelah drop logistik di pedalaman, ketika kembali ke Kota Nabire, kondisi pesawat dalam keadaan kosong.

Para misionaris dan pilot berpikir komoditas jenis apa yang bernilai tinggi yang bisa untuk mengisi pesawat yang kosong dan komoditas ini bisa mensejahterakan penduduk pedalaman.

Maka sejak saat itulah, mulai dilakukan penanaman kopi. Karena Dogiyai terletak di ketinggian 1000 hingga 2000 meter di atas permukaan laut, maka kopi jenis arabika yang dipilih.

Dalam sejarahnya, kopi arabika yang ditanam di Dogiyai, bibitnya didatangkan dari Papua Nugini. Sedangkan kopi Papua Nugini sendiri, bibitnya didatangkan langsung dari Kingston, Jamaika. Sehingga kualitasnya tidak jauh beda dengan kopi Jamaica Blue Mountains, jenis kopi arabika premium terbaik di dunia.

Ternyata bibit kopi arabika yang ditanam di Dogiyai, hasil panennya diluar dugaan. Kopi ini menghasilkan rasa yang unik dan khas, perpaduan rasa dan aroma gurihnya kacang, legitnya karamel, rempah-rempah dan coklat. Rupanya kopi Moanemani lebih dikenal di luar negeri terutama Amerika dan Eropa.

Untuk mengenalkan Dogiyai sebagai penghasil kopi dengan rasa unik, maka setiap tahun perlu diadakan festival kopi Moanemani.

Perkebunan kopi organik milik suku Mee dapat dijadikan sebagai agrowisata kopi. Perlu dibuka sekolah menengah kejuruan pertanian khusus kopi.

Selain itu juga perlu pelatihan penjualan daring pada petani, sehingga petani bisa menjual kopinya langsung pada konsumen.

Berawal dari Dogiyai, bibit kopi arabika ini kemudian ditanam di Jayawijaya, Pegunungan Bintang dan Mimika. Sehingga kemudian muncul nama kopi Wamena, kopi kiwirok dan kopi amungme.

[Nabire.Net/Hari Suroto]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *