Kini Pemeriksaan HIV/AIDS Sudah Bisa Dilakukan Di 4 Puskesmas Yang Ada Di Nabire

1

Untuk mencegah meningkatnya jumlah pasien HIV dan AIDS di Kabupaten Nabire, Papua, sebanyak 4 Puskesmas dipersiapkan secara khusus untuk dapat melayani warga setempat, meski hingga kini tenaga dokter masih minim.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, dr. Frans Sayori mengatakan, selain kesadaran masyarakat untuk menghindari diri dari tindakan beresiko, pemerintah tak tinggal diam. Artinya, berbagai upaya terus dilakukan agar sedini mungkin ada pencegahan, juga upaya pemeriksaan, pengobatan dan perawatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Ada sejumlah upaya pemerintah daerah, salah satunya dengan menyediakan layanan kesehatan bagi pasien. Saat ini empat Puskesmas sudah kami siapkan untuk layani masyarakat jika mau periksa ataupun bagi yang terdeteksi, jadi orang dari kampung tidak perlu repot ke rumah sakit atau Pukskesmas di kota,” tuturnya.

Dokter Sayori menyebutkan empat Puskesmas itu antara lain, Puskesmas SP 3 yang dibuka awal bulan ini, sedangkan Puskesmas Lagari, Puskesmas Siriwini dan Puskesmas SP 1 dibuka sejak Januari dan April 2015.

Mantan Direktur RSUD Nabire ini menjelaskan, empat Puskesmas tersebut dipersiapkan secara khusus untuk dapat melayani perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) bagi pasien HIV. “Jadi, dalam operasionalnya kami Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire bekerjasama dengan LSM CHAI (Clinton Health Access Initiative),” jelasnya.

Selain akses layanan kesehatan pemeriksaan HIV, pihaknya juga melayani masyarakat yang hendak memeriksa penyakit terkait seperti IMS dan TB.

“Untuk maksud itu, pada 3 hingga 7 Agustus 2015, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire bersama CHAI mengadakan kegiatan in house training bagi seluruh petugas kesehatan dan kegiatan on the job training bagi petugas laboratorium di Puskesmas SP 3,” jelas Sayori.

Dikatakan, peningkatan status Puskesmas disertai pendampingan bagi petugas kesehatan dimaksudkan sebagai upaya perluasan cakupan pemeriksaan HIV agar dapat mendeteksi secara dini kasus HIV sesuai dengan program Kementrian Kesehatan RI yaitu program Percepatan Akses dan Kualitas Pelayanan HIV/AIDS di Tanah Papua.

“Petugas di Puskesmas sudah mampu untuk teknis pemeriksaan, diagnosa dan pemberian terapi bagi pasien yang positif terinveksi HIV, IMS dan TB,” katanya sembari menjelaskan, petugas Puskesmas telah diberikan pembekalan dan mendapat pendampingan dalam proses pencatatan dan pelaporan serta pengelolaan obat Anti Retroviral (ARV).

Dari data resmi Dinas Kesehatan Provinsi Papua per April 2014, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Nabire tercatat 3.589 kasus, terdiri dari HIV sebanyak 1.677 dan AIDS 1.912 kasus. Temuan tersebut dikabarkan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, ibarat fenomena “gunung es” yang terlihat di pemukaan hanya sebagian kecil karena mau memeriksa diri.

Sementara itu, Kepala Puskesmas SP 3, Distrik Nabire Barat, Yuvinia Ikomouw mengaku siap menjalankan tugas walau tak ada dokter untuk melayani warga kampung. Solusinya, pasien yang jika ditemukan positif terinveksi HIV, maka akan dirujuk ke Puskesmas Bumiwonorejo atau Puskesmas SP 1 Kalibumi untuk mendapatkan ARV.

Menurut Yuvinia, pendampingan yang senantiasa diberikan fasilitator dari Dinas dan CHAI sangat penting bagi petugas di Puskesmas SP 3. “Dulunya hanya Pustu dengan induk di SP1 Kalibumi, tetapi Puskesmas SP 3 saat ini siap melayani pemeriksaan HIV. Tentunya untuk pemeriksaan HIV, tidak ada paksaan, jika orang berkunjung ke sini dan mau bersedia, kita akan layani secara gratis. Soal kerahasiaan nama dan hasilnya pasti dijamin, sebab itu sudah sesuai Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 21 Tahun 2013,” tuturnya.

Selain layanan pemeriksaan HIV, IMS dan TB, penyadaran kepada warga untuk tetap hidup sehat merupakan hal penting yang sudah dan akan terus diberikan oleh petugas medis di lapangan.

Diakuinya, hingga kini Puskesmas SP 3 telah melayani 5 orang pasien yang bersedia mengikuti pemeriksaan. “Yang paling penting adalah bagaimana kesadaran dan kemauan dari masyarakat untuk mau periksa diri,” tegas Ikomouw.

(JB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *