Kenali Suling Tambur, Seni Budaya Dari Pesisir Papua Yang Tak Lekang Oleh Waktu
Nabire – Provinsi Papua memiliki beragam suku, bahasa, seni budaya dan adat istiadat yang hingga saat ini masih melekat, sebagai warisan kekayaan yang tak ternilai. Seni budaya yang dimiliki warga asli Papua pun begitu banyak dan unik, dari tari-tarian hingga musik tradisional.
Berbicara mengenai musik tradisional dari Papua, tak lepas dari alat musik yang digunakan. Kita bisa menemukan banyak alat musik asli Papua dari mulai tifa, tambur, seruling, triton, pikon, dan masih banyak lagi.
Diantara beragam alat musik tersebut, dua diantaranya yang cukup terkenal, lebih khusus bagi warga Papua di wilayah pesisir adalah alat musik seruling/suling dan tambur.
Bahkan kedua alat musik tersebut sering dipadupadankan dalam suatu tarian yang dinamakan tari suling tambur. Tradisi tarian suling tambur ini terbilang unik, konon kabarnya tarian ini dipopulerkan oleh dua penginjil di Papua yakni Ottow dan Geissler. Beberapa juga menyebut bahwa tradisi suling tambur berasal dari Teluk Wondama Papua Barat.
Selain digunakan sebagai puji-pujian pada saat ibadah, seiring perkembangan jaman, suling tambur juga dikemas kedalam tarian untuk menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Papua.
Bahkan tradisi suling tambur ini dijadikan Festival di berbagai wilayah di Papua seperti di Raja Ampat Papua Barat maupun di Festival Danau Sentani Papua.
Suling tambur merupakan budaya khas yang tumbuh dan berkembang dalam keseharian masyarakat pesisir Papua dan merupakan khasanah budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di kabupaten Nabire, alat musik suling dan tambur juga masih sering digunakan untuk berbagai kegiatan seperti untuk ibadah di gereja, atau dipentaskan pada acara-acara tertentu misal acara adat, acara keagamaan maupun acara formal lainnya.
Penasaran seperti apa saat alat suling dan tambur dimainkan ? Berikut video saat suling tambur dimainkan oleh Jemaat GKI Yahwe Masipawa, Distrik Napan, Nabire, pada saat peresmian Gereja GKI Nunia Samaria Gedo Nabire, bulan Maret 2016 silam.
(Credit : Youtube/Adolof.Waray)
Seni adalah bahasa jiwa. Ia langsung berkomunikasi dengan jiwa anda tanpa sebuah penghalang. Seni mengandung berbagai makna, berbagai emosi, dan berbagai cerita. Waktu akan membuat karya seni semakin bernilai harganya. Semoga seni suling tambur dapat terus dilestarikan sebagai warisan kekayaan budaya di Papua yang tak lekang oleh waktu.
[Nabire.Net]



Leave a Reply