“Keluhan Sandiwara”

Cerita Pendek oleh Sesilius Kegou

Abu hangat malam di atas tungku api sudah terasa dingin pagi itu, seusai bangun lelap tidurku cakrawala mulai menetas. Terdengar kokokan ayam jantang sekitar rumah honai beratap ilalang kering, unggas-unggas pagi pun mulai siulan diatas pepohonan bertanda menghiasi alam “Negeriku diatas awan”.

Pagi tak seindah, kabut pagi membubung menabal. Aku mulai bangun dari lelap tidur diatas tikar koba-koba, memurung wajahku abu terasa dingin bergegas kumpul rantingan kayu kering yang geletak sekitar pingkiran tungku api, ambil korek, membakarnya. Terjemur badanku, tubuhku terasa hangat ujung kuku hinga rambut. Mesak masih tidur di bungkusi kain berbunga kuning, telapak kakinya melurus meletak diatas batu tungku api. Sang waktu membelaku, Jari-jari tangan kiri dan kanan membungkuk rapat dada, tunduk kepala, daku rapat dada, pejamkan mata, dan hening sejenak. Ambil posisi dan berdoa.

“Terimakasih Tuhanku, atas semua kebaikan-Mu. Ampunilah hambamu ini. Berkatilah aktivitasku di sepanjang hari nanti. Amin,” spontan doaku, pada sang Maha Kuasa.

Mengenang haluan hidupku. Doa pagi menghantar segala harapanku, doa pendasar aktivitasku tiap hari “rutinitas”. Setelah aku panjatkan sepotong doa, bergegas keluar dari dapur hangat untuk menjemur badan di pancar sinar matahari pagi yang kini mulai merekah, semalam dingin menusuk nadiku seakan aku berada di gunung Semeru Jawa.

“Dinginku terjemur di sinar matahari pagi nanti,”, bisikku pada rumputan hijau yang menyegar.

Aku berdiri di halaman rumah, dingin terasa menggeram ragaku, tulang betis dan punggung tak ada daya seakan aku berenang diatas air es di kutub utara (keram ragaku) tentu, aku baru penyesuaian di alam dingin setelah aku pulang dari kota studiku Tanah Minahasa Tomohon, Sulawesi utara.

“Maha besar Tuhanku, alam ini kau berikan pada kami ‘anak Dogiyai’ untuk rawatdan hidup diatas kekayaan alam surga ini,” anganku, selagi memandang panorama ciptaan sang Ilahi.

Ufuk timur, barat, selatan dan juga utara awan putih telah meyelimuti lembah Kamu seperti selimut putih entah dari mana datangnya. Pelosok Kamu Selatan sana tak lagi terihat, gunung Tetode yang tinggi kini terlintasi lapisan gugusan awan putih membubungnya, gunung Dogiyai yang gagah pun membisu disana. Bukit terselimut sekitar kota Dogiyai, benar-benar tak lagi cerah seperti biasanya.

Awan telah menyelimuti dari sore kemaring, sepanjang malam hingga pagi. Cuaca geografis tidak menghambat aktivitasku. Air bersih alami tersedia, karena rumah orang tuaku waliku letak di kepala air ‘kali tokapo’ kali yang mengalir deras ditengah kota Dogiyai. Tersedia di alam ini. surgaku.

Air mataku masih membendung di kelopak mataku, tarikan menguap tetap saja pergantian, sebagian tetesan dan air liur masih berantakan diwajahku karena baru bangun tidurku tadi, aku menjepitnya. Dalam Lelah, keluh kesah terbenam dalam nikmat kopi dan rokok. Desiran angin mengusir sisa hangat dalam organ tubuhku. Bola mimpong jadi teman bermainku pagi itu menyepak-nyepaknya bola kepunyaan, Herman ‘adik lelaki’ dingin tetap saja mengeram.

“Bola Pembelianku sejak aku masih belajar di Sekolah menegah Pertama Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (SMP YPPK St. Fransiskus asisi Moanemani) kini Dogiyai,” Mimikan seorang diri.

Dingin menergap badanku, tulang-tulangku tak ada daya. Kampung Ekemanida dingin datang perlahan. Matahari belum menerangi dalam selimut gugusan. Embung pagi masih terbendung diatas hamparan dedaunan umbian dan tanaman wortel cabai dan beberapa sayur depan rumah. Resapan kali tokapo masih tak berani membubung resapannya. Pagi dingin, kerumunan orang berbondong-bondong ramai di sepanjan jalan Ekemanida, mereka menuju ke pasar serta memikul jualan.

Puncak gunung Tetode dan Dogiyai yang tak terlihat tadi terlihat, Sang Surya mulai sinar menerangi sejajar ketinggian dari punjak-punjak gunung disana. Dingin tetap saja menguasai seluruh tubuhku, dingin benar-benar menembusi baju putih lengan pendek berbiru, dipunggung tertulis “DOGIYAI BAHAGIA” tampak depan foto dua penjabat bermenyamping memberi senyum pada rakyatnya, stail, baju jasnya warna hitam, dasi hitam melurus tengah dada, diatas kepala tertera tulisan hitam polos No. 1 (calon bupati dan wakil bupati Dogiyai 2018-2022).

Aku bukan tuan politik, bukan juga (kapitalis) para penguasa di Papua. Namun, hanya mencoba (demonstran) pelaku berdemokrasi di negri pegunungan tengah Papua yang kini politik sebagai bisnis utama dalam kaum Masyarakat mayoritas tani dan tak apa-apa. intelektual juga para pegawai negeri sipil (PNS) jadi aktor utama politik.

Aku masih duduk membisu diatas tumpukan batu di halaman rumah, tanganku membungkuk di dadaku, berbagai cara aku mencoba mengusir dingin. Namun, dingin masih saja menemaniku seakan sahabatku, kejam! Tak dapat mengusir karena baju genakanku tipis sutera.

Semalam terasa hangat karena aku tidur dipinggiran tunggu api dapur hangat. Gugusan awan putih tadi mulai menghilang sekejap mata, entah kemana. Ufuk timur sang surya bersinar benar-benar mulai menderang menerangi sekitarku, seluruh bumi juga, aku pun dapat memberi kehangatan oleh sang Ilahi. Mata matahari makin ketinggian diatas gunung Odeidimi. Beberapa truk menuju Deiyai dan Paniai. Panas pemberi hangat tubuhku, hangat! Jam tangan terdetak berbunyi, jarum jam hendak menunjuk tepat pukul 8:00 WIT (delapan tepat) waktu indonesia timur.

“Wee! Paitua, semanagat sedikit. Hahahaa.”

Mesak Madai bergegas keluar dari rumah tanapa kata-kata, kelopak matanya masih pejam sambil menghapus air matanya. Memberi senyum terlukis di wajah tampannya.

“Ahks… Tadi malam saya tidak tidur baik. Demi nama kamu. Hahaahaa.”

“Hahahhaaaa. Makanya, pasang api to malam tadi, bisa juga kamu tidak tidur to, hanya berteman dingin, hahahaa.”

“Ko diam. Mari kopi sebagian, saya minum.”

“Kopi setengah penuh di Tekok ada, di sebelah tungku api, dapur sana.”

“Malas kesana. Akh! Kasih dulu, gila hahahaa”

“Ok. Minum ini, Ko minum.

Semalam ia tak tidur baik dan lelap karena gigitan nyamuk sekujur tubuhnya. Lelaki sedang kuliah di Universitas Cendrawasih itu datang menghampiriku sambil tangannya mulaimembungkuk sejajar dada seperti aku disini tadi hendak ambil secangkir kopiku. Tubuhnya mulai gementar seperti gempa bumi menggoyangkan gunung.

“wee. Ko punya badan gempa ka? Hahaha.”

“Diam sudah. Bapa pastor.”

“kawan, jam berapa kita berangkat ke Piyaiye?”

“Sebentar lagi.”

“Hatiku tangis melihat alam ini

“kerinduanku menuang dalam hayalku sudah terbawa oleh angin nan lalu.”

“Masa bisa tu, mengapa hatimu begitu sedih? Harapanmu seperti hamparan pasir kali, masa dan waktu akan tetap jalan. Dunia masih leluas untukmu ‘menuju Roma banyak jalan’.”

Berbincang kami mengores angan, berimajinasi harapan kami.

Orang-orang sekitar kami mereka menuju ke pasar, semua orang berbondong menuju bagian pasar. Masyarakat mauwa pun menuju ke arah pasar, orang-orang Ekemanida juga kesan. Mulai dari dewasa hinga bocah-bocah ikut berlari, semua orang ke pasar.

Pasar yang sering terjadi berontak dan tembakan oleh aparat POLRI dan TNI, seperti Dogiyai berdarah yang terjadi pada, senin (05 Mei 2014) Aneh pagi itu.

“Apakah hari ini terjadi dogiyai berdarah lagi?” aku jadi penesaran. Para pengojek orang Jawa, Buton, Bugis mulai mondar mandir. Pengojek parkir motornya di pinggiran jalan, ada juga mengendarai tanpa helm. Aku melihat ramai di sepanjang jalan trans Nabire_Ilaga. Disana para pengojek parkir berharap menawar pada orang-orang sedang berjalan kaki sepanjang jalan satu per satu.

“Om ojek ka?, mau kemana?”

Kamis pagi. Masyarakat tani meninggalkan kandang ternaknya juga ladangnya, para pagawai pun turut Pada sibuk diluar kantor saat jam dinas. Di Gereja katolik Ekemanida, banyak umat Tuhan sedang berbondong masuk dalam halaman Gereja, mereka setia melayani Tuhan. Ada yang membawa sapu lidi dan pacul di bahu untuk membersihkan halaman.

Lonceng genta diatas menara pun terbunyi nyaring di halaman Gereja Katolik St. Maria Imaculata, Moanemani. Pantulan bunyi lonceng genta itu angin datang membawa di bukit tetode entah mengapa.

“ayo! kita jalan, kepasar Moanemani, sedang apa disana nanti,” lelaki tampan memaksaku.

Mesak menampilkan senyum brewok yang menutupi asap rokok yang kemudian mengepul. Kopi diseruputnya lagi. lelaki tampanterus memaksaku ke pasar sambil tarik tanganku selagi aku membungkuk dada.

Hari semakin siang, matahari sudah terang bersinar, langit pun membiru. Jika sampai di pasar harus tempuh satu kilo meter dari Tokapo, kami mulai menuju ke pasar, disana terminal umum. Sepanjang jalan penuh batuan kerikil, pinggiran jalan banyak orang berkelompok-kelompok aktivitasnya, ada juga yang main togel, ditangan mereka terlihat kertas putih tertulis angka 1-12 (satu sampai dua belas) lengkap dengan angka-angka dibawahnya. Game menutupi gairah kerjar orang papua oleh Indonesia.

“Lihat kerumunan orang duduk berkeliling disana, sedang apa mereka?

‘Oh,Tentu! Mereka hitung togel. Lihat kondisi Meuwo.”

“Bukan hanya di Dogiyai, sebagian dari beberapa kabupaten kota di Papua serupa, semua bermain togel.”

“Dogiyai masih saja belum bangun baik. Infrastruktur juga masih belum merata, fasilitas kantor masih belum memadai.

“Dogiyai kapan mekarkan ka?”

“kabupaten ini sudah mekarkan pada tahun 2008, sejak aku masih kelas IV (empat) salah satu Sekolah dasar negeri di Piyaiye.”

“Oh. Benar, ada yang lain di samping itu?”

“Ada. Otonomi Daerah to, jaminan itu masih laku di Provinsi Papua melalui (UU 21/2001). Kini di daerah tetap tidak lagi membangun sumber daya manusia. Aku telah berkunjung beberapa kabupaten di Papua,” perbincangan sepanjang jalan.

Sepanjang jalan lalui setapak tanpa sepatu, telapak kakiku menjadi santapan batu kerikil tajam. Langkahku mulai jinjit mencoba hindari hamparan kerikil baru saja timbun. Orang-orang Toraja mulai membuka pintu di ruang usaha ternaknya, sementara orang Bugis duduk dalam kios kecilnya sambil jaga gorengan, mereka tauh orang Papua jadi pembeli setia. Kantor-kantor yang megah pintu pagar masih saja tutup, banyak orang ramai berbondong ke pasar seperti tadi, dari kampung Mauwa, dari dari Mapia juga datang. Sekitar terminal Moanemani jadi lautan manusia. sementara ada juga yang membawa pulang hasil belanja dari kios.

Bayak siswa/i Sekolah SMP YPPK St. Fransiskus Moanemani dan SMP Negeri 1 Moanemani mulai pulang dari sekolahnya, mereka sangat senang, wajah mereka terpoles senyuman.

“yess! Libur, kita libur tadi”

“Libur apa ade?”

“Libur Natal kk. Kk, kami mau pulang ke kampung, Rindu orang tua kami,’mereka tunggu kami’ disana.”

“Semoga damai Natal menyertai ade dan keluarga.”

Perjalanan kami sudah lewat landasan bandar udara Moanemani. Banyak orang sibuk dengan hitung togel seperti tadi di bagian Ekemanida, di emperan rumah-rumah sekitaran jalan trans Nabire-Ilaga mereka menepih dengan stail sedehana, duduk genggam lembaran rumus togel di tangan.

Masyarakat, pegawai berkerumunan dalam pasar “menghitung togel”. Mama-mama datang dari berbagai pelosok, mereka mulai jual hasil kebun di pinggiran jalan, masyarakat sedang belanja ramai.

Papua butuh sang sanegaran berjiwa menuju Papua baru Kami turut serta dalam kerumunan, kami melihat beberapa anak produktif konsumsi miras dan pinang. Beberapa mama-mama duduk sambil makan Nota bakar (makanan khas Papua daerah Mee-pago) aku ingat mamaku disana. Ada juga yang berkeliaran sepanjang emperan kios berderetan panjang, ada juga yang berdiri santai sandar tembok kios kami menyaksinya. Banyak orang mereka belanja persiapan perayaan Natal (kelahiran Juruselamat) Tuhan kita Yesus Kristus dalam kandang Domba akan rayakan di seluruh dunia.

Setelah pantau beberapa menit, kami menuju jembatan kali Tuka

Sepanjang jalan kendaraan roda empat (mobil) plat merah semua ada Innova, Avanza, Kijang dan triton semua dari ujung ke ujung parkir tersusun rapi. Disana Para kondektur pada sibuk di samping dan dalam mobil, pinang jadi santapan tiap saat, aku menjadi bingung, tapi tak heran mungkin adat Mee-Pago. Pirang jadi andalan, bahan perhatian bagi mereka di publik.

Mereka mulai teriak dan terus teriak tiap saat. Kami menepi emperan.

“Mapia! Mapaa! Mapia!,

Deiyai! Paniai!.”

Ishak dan Markus ke Deiyai. Mereka sahabat saya ketika SMA.

“Apa sebanya. Mobilnya plat merah ditagi uang kepada Masysarakat tak apa-apa jika naik kendaraan itu? Apakah tak ada ketegasan dari dinas Perhubungan transportasi Darat? Atau kah dibiarkan begitu dari Bupati?,” batinku mulai menggetar,jantungku perlahan datang membakar sum-sum.

Aku tak paham apa penyebabya.

Disamping mobil hitam penuh debu terlihat seorang lelaki setengah botak berkumis putih kulinya mulai keriput (orang tua) yang selagi berdiri isap rokok asap rokok sedang sedang menutup wajah kemudian mengepul sambil menatap gunung Tetode yang tinggi.

“Selamat siang pak.”

“ia siang juga, anak.”

“Bapak, mobil plat merah. mengapa ditagi uang uang ongkos? Aku tak paham.”

“Anak, itu dari dulu, seperti itu. Walau mobil plat merah, mereka di tagi kami uang. Kalau di antar ke tempat tujuan kami. Bukan hanya disini, tapi beberapa kabupaten tetangga kita pun sama.”

“Benar pak,” aku tak ada kata balas.

“Saya ke kampung dulu anak, di Timepa. Tujuan Mapia sebentar lagi penuhi.

“selamat ya anak/ selaamt juga pak.”

Banyak orang kini muat di belakos pertama berwarna hitam, plat merah, Sopir Ahmad mulai bunyi mesin mobilnya dan menuju mapia. Ahmad aku kenal dari Nabire, saat saya SMA di Wamena, dia teman kelasku. Innova juga demikian, penumpang mulai muat penuh dan menuju Deiyai dan Paniai. Melihat beban, keluh dan kesahrakyatku tiba-tiba air mataku jatuh berderai di pipiku seperti tangisan alam pagi tadi.

“Sangat kongkrit! Pagar makan tanaman,” marah, suara tangisanku dalam hayalku, sambil ku menyepak batu kerikil. Kejamnya hati menggeras bagai batu.

Aku benar-benar tak ada daya melihat suasana ketika itu.

“Koha abata Mumei Maiha. Ikai amemegakei. Pihaihe auwainehe.”

“koha ikina amaima. Iiiiii maa.. umina maa amai”

“Iniiii kiwetena, inii mepe koko natal gaipeu edaine kohoka. Ini kiwetena, odaninu Abou umitoudani,” sapaan salam rindu hangat bahasa lembutan Mapia oleh orang tua yang datang dari pelosok sebrang sana sebelum mereka naik mobil avansa ketiga dari pertama tadi menuju Kali Mapia distrik Mapia Tengah, Modio yang kenal tanah kelahiran sang pembawa kabar, Auky Tekege.

Setelah berapa mobilmulai muat penumpang, mobil berangkat laju hingga satu demi satu penumpang terisi mobil terlihat kosong di tempat porteran dari ujung ke ujung, hanya aku dan Mesak berdiri sendiri, tak ada yang menyapa kami. Kami berdua seakan orang asing di Dogiyai. Kami membisu sebelah barat jembatan kali Tuka yang deras berliku di tengah kota Moanemani. Mesak duduk menyendiri tanpa sepata kata, ia balik ke arah kali tuka memandang panorama Kamu Selatan, mencucur air mata mulai berdinar dipipinya. Tak terima baginya terhadap semua yang terjadi saat ini terhadap masyarakat.

“Kawan saya pernah nonton di youtobe, lagi pula pernah baca di beberapa Media lokal Papua. seperti dalam berpidato ‘saya mencoba dogiyai akan bahagia’ juga bayak gagasan yang pernah diutarakan dalam pidato perdana oleh bupati sekarang, dan sepuluh Misi Dogiyai bahagia di nomor ke_dua tertulis ‘hidup berpemerintahan yang melayani dan membangun’ kemudian nomor lima ‘hidup sejahtera’ dalam visinya dogiyai bahagia. Kapan akan inplementasikan di lapangan? Janji pun tinggal janji nantinya. Sayang rakyatku, seperti makan sayur tanpa garam,” beber pilu, Madai.

Madai bersedih, meminta pendapat padakuku,mencoba menupi kesedihannya gunakan kata-kata indah. Namun, madai tetap saja bersedih perlahan, seakan tak ada daya. Jam tangan terdetak bunyi jarum jam menunjuk tepat pukul (12:00) suasana terminal Moanemani terasa sunyi, beberapa pengojek mulai parkir sekitar kami, mereka diam membisu seakan bisu, beberapa orang cuci pakaian, sabuni kemudian membilaskan di air kali Tuka. Unggas siang tak lagi siul alam dogiyai benar-benar turut membisu, sunyi menghampiri, hanya terdengar desitan arus Tuka.

Selagi musibah mengancam kami, di ujung jalan ada seorang lelaki datang mengendarai motor dari jalan arah Mapia. Laju, Ia lurus ke arah kami, ia mulai menghampri kami, wajahnya ditutup kaca helm kuning, kaca depan berpelangi, tarikan gas motor Yamaha byson hitam depan kami. Seakan sombong diri.

“Sombong sekali

“siapa dia ya,” batinku terungkap

Pandanganku penatapnya sejenak, hilang akalku. Ia mulai mematikan motornya, turung dari motornya, helmnya mulai letakkan diatas motor, batang hidung di raut wajah Moses Kayame benar-benar berdiri depan kami. Dia sahabat kami sewaktu Sekolah Menengah YPPK St. Thomas Wamena. Masih menyimpan berbagai kisah di alam lembah baliem wamena. Kami dibesarkan oleh alam Wamena.

“Wirni Nare. Darimana kamu tiba?,” tanya Mesak tadinya duduk membisu.

“Saya setelah pulang dari kota studiku ‘Pontianak’, sudah dua malam disini. Tasku di Mapia,” jawabnya.

Lentingan golintang terdengar ditelingaku, suasana Natal terlihat, sunyi, anak-anak sekolah pun pergi berlibur, mereka berbondong jalan kaki ke terminal Moanemani. Ada juga ke Kamu timur, utara dan juga ke Kamu Selatan juga ke Mapia bahkan ke Piyaiye.

“Sekarang juga kita ke Piyaiye, kita lapis di motor ini sampai di Bomomani. hahahaaa,”

“Mana mungkin ko berani. Bangkret ko, Tuan besar miskin. Hahahaha!”

“Wee! Tenang, Ko naik sudah anak kecil, Paksa dewasa.”

Seusai semua itu. Moses menyuruh kami naik di motornya. Wajahnya tersenyum perlahan, Madai ikut gembira kehadirannya. Tepat pukul 12: 30 WP, setengah satu kami tinggalkan kota Moanemani menuju tanah kelahiran ufuk utaea dari keamaian kota itu, merayakan Natal bersama orang tua terkasih di kampung terpencil.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua Kuliah di Semarang, saat ini menulis lepas

[Nabire.Net]



Silahkan Komentar

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] monkey emoticons by andreasandre Modified from nartzco source code.