Keberatan RSUD Nabire Terkait Turun Kelas Akan Dijawab Kemenkes Akhir Agustus

(Dirut RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey Sp.PD)

(Dirut RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey Sp.PD)

Nabire – Beberapa waktu lalu, ratusan rumah sakit di tanah air diminta untuk melakukan penyesuaian kelas (turun kelas) karena dianggap tidak sesuai antara data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan dengan kondisi riil di lapangan.

Hal tersebut sesuai dengan Surat Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI nomor HK.04.01/I/2963/2019 tentang Rekomendasi Penyesuaian Kelas Rumah Sakit Hasil Reviu Kelas Rumah Sakit.

Dalam surat tersebut, sebanyak 615 rumah sakit di seluruh Indonesia diminta turun kelas, salah satu diantaranya adalah Rumah Sakit Umum Daerah Nabire, yang direkomendasikan turun dari tipe C ke tipe D.

Sejumlah kriteria yang menentukan rekomendasi penurunan kelas oleh Kemenkes diantaranya sarana dan prasarana di rumah sakit serta tenaga kesehatan khususnya dokter.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey Sp.PD saat itu kepada Nabire.Net menjelaskan bahwa rekomendasi tersebut tanpa ada koordinasi yang jelas dengan pihak RSUD Nabire, sehingga data yang masuk di Kemenkes tidak sesuai dengan kondisi riil.

(Baca Juga : Direkomendasikan Turun Kelas Ke Tipe D Oleh Kemenkes, Dirut RSUD Nabire Akan Ajukan Keberatan)

Oleh karena itu, dirinya sedang mengajukan keberatan ke Kementerian Kesehatan terkait rekomendasi yang diturunkan oleh Kemenkes.

Terbaru, dr. Andreas Pekey Sp.PD, kepada Nabire.Net, kamis (08/08), mengabarkan progress terkini pengajuan keberatan dari RSUD Nabire kepada Kementerian Kesehatan.

Dijelaskan Andreas, berdasarkan surat Kemenkes tanggal 15 Juli 2019 tentang rekomendasi penyesuaian kelas Rumah Sakit termasuk RSUD Nabire, pihak Kemenkes memberikan tenggat waktu penyampaian keberatan hingga 12 Agustus 2019.

“Kelengkapan data dimaksud, paling lambat harus terinput dalam data Kemenkes tanggal 12 Agustus 2019. Untuk RS Nabire, proses input data baik online maupun offline sudah kami lakukan, dan saat ini kami tinggal menunggu proses pengumuman dari Kementerian Kesehatan tanggal 26 Agustus 2019 keatas”, kata Dirut RSUD Nabire.

Andreas menjelaskan bahwa rekomendasi penyesuaian kelas dari Kemenkes terhadap RSUD Nabire untuk turun ke tipe D diakibatkan data SDM dan Data Aplikasi Sarana Prasarana Kesehatan (ASPAK) RSUD Nabire rendah (kurang).

“Setelah ditelusuri ke Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, ternyata rekomendasi turun kelas diakibatkan data SDM dan ASPAK RSUD Nabire kurang. Data SDM-nya nol sedangkan data ASPAK kurang dari 60%, termasuk belum ada profil Rumah Sakit serta Sertifikat Akreditasi”, urai dr. Andreas Pekey.

Lanjut Andreas, pihak RSUD Nabire sangat berusaha untuk mempertahankan tipe RSUD di tipe C, dan diupayakan untuk naik ke tipe B, karena kalau tipenya turun maka ketersediaan dokter spesialis akan terbatas sehingga secara langsung berdampak pada pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Saya kasih contoh, rencana pengembangan Unit Hemodialisa (Cuci Darah), pengembangan tersebut akan menjadi terhambat jika RSUD Nabire turun ke tipe D”, imbuhnya.

Oleh karena itu, RSUD Nabire saat ini telah melengkapi semua kekurangan dan saat ini RSUD Nabire tinggal menunggu keputusan dari Kementerian Kesehatan RI, diatas tanggal 26 Agustus 2019.

Di Provinsi Papua Ada 10 Rumah Sakit Yang Turun Kelas Sesuai Rekomendasi Kemenkes

Seperti diketahui, sesuai rekomendasi Kemenkes RI, selain RSUD Nabire, ada 9 rumah sakit lainnya di Papua yang diminta turun kelas.

Kesembilan rumah sakit tersebut masing-masing 1 rumah sakit di Wamena, 2 rumah sakit di kabupaten Jayapura, 1 rumah sakit di Kepulauan Yapen, 1 rumah sakit di Biak, 1 rumah sakit di Merauke, serta 3 rumah sakit di kota Jayapura.

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *