Emawa Dan Owaada Konsep Penyatu Keberagaman Di Meeuwo Papua

Emawa dan Owaada adalah sebuah nilai budaya yang telah ada sejak dahulu dan telah hidup dan berkembang bersama masyarakat Adat Suku Mee/ Ekagi, sehingga nilai inilah yang telah diyakini menjadi sebuah nilai yang akan tetap dipertahankan bersama dengan upaya mencari dan menemukan jati diri.

Emawa dan Owaada

Owaada adalah bahasa Suku Mee/Ekagi di Papua yang artinya Pagar Rumah, Emawa sebagai rumah laki-laki, namun dalam kehidupan sehari masyarakat biasanya memahami lebih dalam yaitu Owaada sebagai kebun bagi tanaman yang diyakini memunyai nilai khusus dalam budaya karena keberadaannya, sangat terkait dengan Tokoh dalam gerakan mesianis dalam Suku Mee/Ekagi.

Di sisi lain, Emawa dipahami sebagai sebuah rumah kebenaran,yang diartikan dengan: tempat ini adalah tempat pendidikan, tempat membangun relasi dengan sesama, dan tempat mensyukuri kehidupan dari Sang Pencipta atau yang disebut Ugatame.

Kehadiran Gereja pada tahun 1938, telah membagi masyarakat ini menjadi dua kelompok yaitu Katolik dan Protestan, perbedaan ini makin diperlebar dengan kebiasaan hidup para penyiar agama serta pengaruh politik di negeri Belanda.

Kesadaran akan pentingnya Emawa dan Owaada mulai muncul sejak tahun 2005, melalui Musyawarah Pastoral, Gereja Katolik menggagas hidup menggereja dengan menggali kembali konsep Emawa dan Owaada, karena konsep ini juga diketahui dan diyakini oleh Masyarakat Adat Suku Mee yang beragama Protestan, maka telah menjadi gerakan bersama dua gereja besar di Meeuwo yaitu Katolik dan Kingmi sehingga telah menjadi semangat dan gerakan bersama di Meeuwo.

Dewan Adat Paniai dalam Musyawarah Adat tahun 2009 telah membuat keputusan adat dan diajukan ke Pemda agar dibuat perda agar ada kewajiban rakyat membuat budidaya owaada yg adalah totaiyo untuk mènjadi sumber pangan pokok rakyat.

Sejak itu konsep budaya Emawa dan Owaada menjadi nilai yang diterima oleh kelompok masyarakat majemuk, sehingga mulai dibangun Emawa di Gereja- Gereja, sebagai simbol budaya, dan itu adalah rumah kebenaran dan Owaada sebagai Kebun Kehidupan, dengan nilai ini telah memunculkan sebuah kesadaran bahwa masyarakat Adat Suku Mee/ Ekagi.

Kesimpulan

Konsep budaya Emawa dan Owaada telah menjadi penyatu dengan dasar Suku Mee/Ekagi, mempunyai satu Tuhan yang dikenal Ugatame (Sang Pencipta) dalam perbedaan keyakinan sebagai orang yang beragama Katholik dan Protestan dan Perbedaan wilayah adat. Sekarang bagaimana pemerintah di Meeuwo mengembangkan hal tersebut sebagai program utama Owaada dan Totaiyo sebagai pangan lokal orang Mee dan Emawa sebgai basis pemerintahan kecil di Meewo.

*Penulis, John Gobai, Anggota DPR Papua

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *