Dua Peti Mati Dari Masyarakat Adat Sebagai Simbol Kematian Demokrasi Di Nabire

(Foto.R.W)

Nabire – Pesta Demokrasi Pemilihan Umum seharusnya menjadi pesta yang menyenangkan bagi rakyat. Alih-alih jadi pesta rakyat, rakyat justru dibuat kecewa dengan beragam penyimpangan yang sarat akan kepentingan dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif 2019 di kabupaten Nabire.

Kekecewaan itu tergambar jelas dalam aksi penolakan Pemilu Legislatif 2019 di Nabire oleh masyarakat adat Papua yang dikoordinir oleh enam suku pesisir dan kepulauan Nabire. Aksi itu digelar di depan Kantor KPU Nabire, selasa (14/05).

Menurut massa, penolakan hasil Pileg 2019 didasari proses yang melenceng dari aturan yang berlaku, yang berdampak pada raihan suara anak pesisir dan kepulauan Nabire sebagai peserta Pileg 2019.

(Baca Juga : Pleno Hitung Suara Pemilu 2019 Tingkat KPU Kabupaten Nabire Tuntas Sabtu Dini Hari)

Selain menyerahkan pernyataan sikap kepada Komisioner KPU Nabire, Daniel Marin, massa juga menyerahkan dua peti mati sebagai simbol kematian demokrasi di daerah ini. Kedua peti mati tersebut ditujukan kepada KPU Nabire dan DPRD Nabire.

Adapun mereka yang tergabung dalam aksi ini berasal dari Suku Wate, Suku Yerisiam, Suku Hegure, Suku Moora, Suku Umari, Lembaga Masyarakat Adat, Dewan Adat Papua Wilayah Nabire, serta para Tokoh Adat.

(Baca Juga : Massa Dari Pengawas Independen Dewan Adat Masyarakat Nabire Unjuk Rasa Kamis Malam Di Depan Lokasi Pleno PPD Nabire)

Aksi sendiri berlangsung tertib hingga selesai dalam pengawalan pihak kepolisian.

[Nabire.Net]


Silahkan Komentar

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] monkey emoticons by andreasandre Modified from nartzco source code.