Dewan Perwakilan Rakyat Papua Pertanyakan Kehadiran Bupati Di Pertandingan Tinju
Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) yang berasal dari daerah pemilihan Paniai, Nason Utty mempertanyakan kehadiran Bupati Nabire Isias Douw, di Gedung Olah Raga (GOR) daerah itu, untuk menyaksikan jalannya final tinju tanpa pengawalan protokoler dan pihak keamanan.
“Kok pada saat pertandingan final tinju ada bupati dan pihak keamanan, tetapi tidak bisa steril. Disamping itu, kalau terjadi keributan tidak mungkin korban itu lebih dari 20, ini kan sudah lebih dari 20. Kekuatan apa yang mengakibatkan sampai banyak orang bisa menjadi korban dalam hitungan,” kata Nason Utty ke wartawan di Jayapura, Selasa (16/7).
Dia menilai, insiden yang menewaskan puluhan warga, jika ditanya terkait dengan ada yang merancangnya tentu yang medapat untung adalah orang yang ingin menciptakan konflik.
“Kapasitas GOR 5 ribu orang. Kami tidak bisa itung juga. Lalu awal mula siapa yang memulai kami belum bisa sampaikan. Cuma kami mau pertanyakan ada bupati dan polisi, kok tidak bisa steril. Kedua kalau itu terjadi keributan tidak mungkin korban itu lebih dari 20. Ini kan sudah lebih dari 20. Kekuatan apa yang mengakibatkan sampai banyak orang bisa menjadi korban dalam hitungan detik,” ujarnya.
Soal siapa pelakunya, kata Nason, polisi lebih professional. “Kalau polisi tidak bisa mengunkap siapa pelaku dibalik insiden yang menewaskan puluhan orang, pastinya ada LSM yang biasa menghimpun sejumlah kasus dengan kejadian yang terjadi di tingkat masyarakat,” tambahnya.
Lanjutnya, jika pelakunya sudah ditemukan, aktor dari kejadian ini harus dihukum gantung, karena sudah korbankan puluhan nyawa orang. ”Harus eksekusi mati. korbannya 17 orang menurut berita nasional. Akan tetapi yang saya dapat korban justru 21 orang. Sedangkan setelah dilarikan ke rumah baru meninggal belum dicatat lalu dilarikan ke rumah sakit dari 15 orang, 10 yang korban langsung dibawa pulang dan yang lainnya masih dirawat,” katanya.
Sementara itu, Pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Provinsi Papua mengklaim tak dilibatkan dalam turnamen tinju di Kabupaten Nabire yang berakhir rusuh dan menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.
Ketua Komisi Teknis Pertina Papua, Carol Renwarin mengatakan, setiap kejuaraan harusnya ada teknical delegate dari Pertina Papua, namun hal itu tidak dilakukan. Bahkan hingga pertandingan Pertina Papua tidak dilibatkan.
“Itu sebabnya pekan olah raga kabupaten atau Porkab ada beberapa cabang olah raga yang dipertandingankan. Hanya saja pas pertandingan tinju yang rusuh. Memang ini interen, tapi setiap ivent harus Pertina provinsi dilibatkan. Kami sendiri tidak mendapat undangan dan tidak dilibatkan oleh panitia. Padahal kami harusnya ada, selaku pengurus Pertina provinsi. Kapasitas gedung sendiri sangat kecil tidak sampai untuk 1.000 orang,” kata Carol Renwarin.
Menurutnya, sesuai laporan Katua Panitia Pertandingan Yafet Womsiwor, kericuhan bukan dipicu hal teknik. “Namun saat itu bupati menginstruksikan agar tidak dipungut biaya bagi penonton yang ingin masuk gedung. Saat itulah ada beberapa masyarakat yang dalam kondisi mabuk masuk dan ingin bertemu bupati, namun dilarang oleh aparat keamanan, mereka lalu marah dan melempar kursi, sehingga penonton yang ada di dalam gedung berlarian keluar,” ujarnya.
(Sumber : Tabloidjubi.com)


Leave a Reply