Catatan Akhir Pemilu Di Dogiyai

(Agus Tebai)

Dogiyai – Pemilu merupakan sarana penunjang dalam mewujudkan sistem penyelenggaraan daerah secara demokratis. Pemilu pada hakikatnya merupakan proses ketika rakyat sebagai pemegang kedaulatan memberikan mandat kepada para calon pemimpin untuk menjadi pemimpinnya.

Dalam negara demokrasi, pemilu adalah salah satu bentuk syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pelaksanaan pemilu yang luber dan jurdil pun memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Pelaksanaan pemilu yang baik melahirkan harapan yang lebih baik akan masa depan daerah.

Untuk itu proses pemilu dapat berjalan baik dan tidak ada semua berpemangku kepentingan, baik itu Penyelenggara Pemilu KPU, Bawaslu ,Pimpinan Parpol, Pemerintah, Pihak Keamanan TNI/ Polri dan Masyarakat.

Ada beberapa catatan yang penting kita renungkan bersama :

1. KPU sebagai penyelenggara pemilu dapat menjaga indepensi, transparansi dan akuntabilitas. Sebagai bagian dari penyelenggara yang paling penting adalah menjaga hubungan baik dalam menyelenggarakan Pemilu, dan jangan sampai menciptakan provokasi.

2. Bawaslu sebagai wasit dilapangan perlu menjaga ketat bila pemain melanggar. Kalau melewati rambu -rambu berikan lampu hijau atau merah. Bagian ini peran dari Bawaslu sangat berpengaruh besar dalam penyelenggaraan.

3. Pemerintah sebagai penguasa sekaligus Pelaku Pembangunan dapat mendukung penyelenggara sebagai bagian wilayah kerja di Dogiyai. Walaupun KPU adalah Indepen, sebagai anak induknya harus mendukung karena sudah diperintahkan UU.

4. Pimpinan Parpol dituntut mampu menjaga keamanan dan menjaga anak buahnya keluar dari garisnya. Mampu juga memberikan pemahaman tentang perjalanan pemilu kepada pengurus dan caleg sebagai bagian dari sosialisasi.

5. TNI/ Polri mampu memberikan jaminan keamanan yang bagian dari wilayah hukum di Dogiyai.

6. Masyarakat hanya memberikan suara dan mengikuti irama politik. Disini akan diuji para pihak semua dalam memainkan iramanya.

Dari semua point diatas ini dapat disimpulkan bahwa aktor-aktor pemain adalah para pihak semua. Kita tak bisa menjaga tanah Dogiyai sebagai bagian dari tugas bersama.

Harapan saya, Dogiyai adalah milik bersama sehingga kita harus mampu memberikan kontribusi, memberikan pemahaman yang benar dan pasti tentang irama politik seperti apa, serta menjaga suasana agar tetap kondusif.

Satu hal yang perlu dipahami oleh semua adalah jangan jadi pemain dan mudah memprovokasi. Jadi pribadi yang benar untuk anak Negeri Dogiyai.

*Penulis, Agustinus Tebai

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *