Bupati Deiyai Akan Selidiki Warga Sipil Bertopeng Yang Ikut Menembak Pada Kericuhan Deiyai

(Kericuhan Deiiyai 28 Agustus 2019)

Deiyai – Aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh 28 Agustus lalu di Deiyai selain menyebabkan jatuhnya korban jiwa baik dari aparat maupun warga sipil, juga mengakibatkan sejumlah pucuk senjata milik TNI dirampas warga.

Bupati Deiyai, Ateng Edowai yang dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (31/08) menjelaskan, dari catatan yang ia terima, total jumlah korban meninggal dari warga sipil sebanyak 9 orang. Empat orang meninggal di RSUD Enarotali, sedangkan 5 orang lainnya ditemukan di tempat baik di hutan maupun rumput-rumput.

Selain itu, kata Bupati Deiyai, dirinya juga mendengar kesaksikan beberapa korban luka bahwa yang menembak pada aksi ricuh 28 Agustus lalu bukan dari pihak aparat tapi oleh masyarakat sipil bersenjata yang pakai topeng.



“Lebih jelasnya jika masalah ini selesai, nanti saya akan panggil mereka yang korban luka, karena menurut kesaksian mereka yang korban luka, bukan TNI/Polri yang tembak, tapi masyarakat sipil bersenjata yang pakai topeng, tapi orangnya saya tahu, nanti saya akan tangkap mereka, itu pengakuan dari beberapa orang korban”, urai Ateng Edowai.

Bupati nantinya akan memanggil para korban luka maupun keluarga korban meninggal untuk meminta keterangan, apakah peluru tersebut ditembakkan aparat atau pihak lain. Disamping itu akan diidentifikasi berapa yang kena peluru dan berapa yang kena panah.

Terkait situasi di Deiyai saat ini, Bupati menjelaskan bahwa Deiyai sudah mulai kondusif. Namun masyarakat masih trauma. Begitu juga warga di Waghete, mereka mengungsi. Namun Bupati telah meminta mereka kembali ke kota. Untuk para pedagang, mereka diminta untuk kembali berjualan seperti biasa.

[Nabire.Net/A.R]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *