BMKG Nabire Kategorikan Hujan Tanggal 13 Oktober Sebagai Hujan Ekstrim

(Petugas PLN saat melakukan perbaikan peralatan yang tersambar petir akibat hujan ekstrim di Nabire, 13 Oktober lalu)

Nabire – Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) kabupaten Nabire, mengkategorikan hujan yang terjadi pada tanggal 13 Oktober 2019, mulai pukul 03.00 hingga 09.00 Wit sebagai hujan ekstrim.

Hal itu disampaikan BMKG Nabire dalam rilis persnya yang diterima Nabire.Net, Selasa (15/10).



Dalam rilis pers tersebut, satuan curah hujan di Nabire pada tanggal 13 Oktober lalu yaitu 140.4 mm sehingga dikategorikan hujan ekstrim.

Untuk menentukan bahwa hujan pada tanggal 13 Oktober lalu merupakan hujan ekstrim, BMKG Nabire menganalisa berdasarkan 9 indikator yaitu peredaran semu tahunan matahari, ENSO (El Nino – South Osciilation), pergerakan gelombang atmosfer sepanjang khatulistiwa (Madden – Julian Oscillation), suhu permukaan laut (SST), radiasi gelombang panjang (OLR), pola arus angin, kelembaban relatif, indeks labilitas udara dan citra satelit.

Dari sembilan indikator tersebut, BMKG Nabire berkesimpulan sebagai berikut :

  • Secara analisis global, kejadian banjir yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi oleh posisi peredaran tahunan Matahari berada di BBS serta dipengaruhi oleh kondisi SST yang cukup hangat

  • Adanya pola shearline (belokan angin) & pola eddy ( sirkulasi daerah tertutup) di sebelah utara perairan samudera Pasifik yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan – awan konvektif penghasil hujan ekstrim maupun petir / guntur.

  • Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700 & 500 mb bernilai 60 – 90 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah hingga lapisan 700 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif di atas wilayah Nabire sampai di ketinggian level 700

  • Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-69) s/d (-100) yang tampak jelas pada pukul 18.00 UTC (03.00 WIT). Awan Cumulonimbus (Cb) tersebut yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang, hujan lebat hingga hujan ekstrim serta petir/guntur.

  • Dari indeks labilitas udara diketahui bahwa adanya potensi pembentukan awan konvektif sedang dan kemungkinan terjadi hujan & badai

BMKG Nabire juga memprediksi bahwa selama beberapa hari kedepan, wilayah Nabire masih berpotensi mengalami berawan tebal hingga hujan lokal dengan intensitas ringan terutama pada malam dan dini hari.

Sebagai informasi, hujan yang terjadi pada tanggal 13 Oktober lalu di Nabire, berakibat pemadaman total listrik di seluruh wilayah Nabire. Hal itu disebabkan peralatan milik PT. PLN Nabire terkena sambaran petir.

(Baca Juga : Kabel JTM Tersambar Petir, Nabire Blackout)

[Nabire.Net/Eusebius.A]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *