BMKG Nabire : Analisis Kejadian Banjir & Tanah Longsor di Distrik Yaro 6 Maret 2020

(Banjir genangi kampung Jaya Mukti (Yaro 2), Distrik Yaro, kabupaten Nabire/Foto.Syaifudin.R)

Nabire – Hujan deras yang terjadi di Nabire Jumat malam (06/03), mengakibatkan sejumlah kampung di Distrik Yaro, kabupaten Nabire, terendam banjir. Selain itu hujan juga mengakibatkan terjadi longsor di ruas jalan dari Yaro Makmur menuju Wami.

Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) kabupaten Nabire, mengkategorikan hujan yang terjadi pada tanggal 6 Maret tersebut sebagai hujan lebat.

(Baca Juga : Banjir dan Longsor Terjadi di Distrik Yaro Kabupaten Nabire)

Hal itu disampaikan BMKG Nabire dalam rilis persnya yang diterima Nabire.Net, senin (09/03).

Dalam rilis pers tersebut, satuan curah hujan di Nabire pada tanggal 6 Maret 2020 yaitu 81.55 mm sehingga dikategorikan hujan lebat.

Untuk menentukan bahwa hujan tersebut adalah hujan lebat, BMKG Nabire menganalisa berdasarkan 8 indikator yaitu peredaran semu tahunan matahari, El Nino-South Oscillation, pergerakan gelombang atmosfer sepanjang khatulistiwa (Madden-Julian Oscillation), suhu permukaan laut (SST), pola arus angin, kelembaban relatif, indeks labilitas udara dan citra satelit.

Dari delapan indikator tersebut, BMKG Nabire berkesimpulan sebagai berikut :

  • Secara analisis global, kejadian banjir dan tanah longsor di Distrik Yaro yang di akibatkan dengan adanya hujan lebat yang dipengaruhi oleh posisi peredaran tahunan gerak semu Matahari yang sedang berada di BBS. Selain itu, kondisi suhu permukaan laut yang cukup hangat juga menjadi penambah pasokan uap air yang mendukung terhadap terbentuknya awan hujan.

  • Pada fase MJO, terlihat jelas posisi MJO sedang aktif pada tanggal 06 Maret 2020 yang berada di kuadran 5. Hal ini memiliki pengaruh yang berkontribusi terhadap kondisi curah hujan di sekitar wilayah Indonesia.

  • Terdapat pola Eddy (Sirkulasi daerah tertutup) dan pola shearline (belokan angin) di atas wilayah Nabire yang menyebabkan terbentuknya awan-awan konvektif penghasil hujan.

  • Pada kelembaban relatif (RH) lapisan 850 mb dan 500 mb yang memiliki nilai berkisar 90 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat, kondisi udara basah hingga ke lapisan 500 mb yang tentunya sangat berpotensi terhadap terbentuknya awan-awan konvektif di atas wilayah Nabire.

  • Klasifikasi jenis awan yang diketahui berdasarkan gambar citra satelit Himawari 8 IR EH adalah awan Cumulonimbus (Cb) dan Cumulus (Cu). Sebagaimana terlihat jelas awan tersebut memiliki suhu puncak awan yang berkisar dari dari -62°C s.d -100 °C yang memiliki potensi terjadinya hujan lebat serta cuaca buruk lainnya.

BMKG Nabire juga memprediksi bahwa selama beberapa hari kedepan, wilayah Nabire masih berpotensi mengalami berawan tebal hingga hujan dengan intensitas ringan-sedang terutama pada malam dan dini hari.

[Nabire.Net/Nanda Rinaldy, S.Tr]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *