Besok, Kejaksaan Negeri Nabire Limpahkan Kasus 21 WNA Ilegal Ke Pengadilan Negeri Nabire

Usai penyidikan dinyatakan lengkap (P21) oleh Imigrasi Timika, 21 WNA ilegal yang bekerja di perusahaan tambang yang ada di Nabire, dilimpahkan berikut barang buktinya ke Kejaksaan Negeri Nabire.

Saat ini ke -21 WNA dari 3 negara tersebut, ditempatkan di Lapas Kelas IIB Nabire. Sementara pihak Kejaksaan Negeri Nabire hingga saat ini belum melimpahkan kasus tersebut Pengadilan Negeri Nabire.

Sebelumnya, Nabire.Net pernah menanyakan progress kasus ini kepada Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Nabire, Arnolda Awom SH, selasa (02/10).

Menurut informasi dari Kasi Pidum, kasus ini akan dilimpahkan pekan kemarin. Namun hingga hari jumat (05/10), kasus tersebut belum dilimpahkan ke Pengadilan.

Nabire.Net mencoba menanyakan informasi tersebut kepada Arnolda Awom SH, sabtu (06/10). Melalui pesan singkatnya, Kasi Pidum, Arnolda Awom SH, menjelaskan bahwa pelimpahan kasus ke Pengadilan Negeri Nabire akan dilakukan pada hari senin (08/10).

Seperti diketahui, masa penahanan ke 21 WNA dari China, Jepang dan Korea tersebut adalah 20 hari, terhitung sejak tanggal 27 September hingga 16 Oktober 2018 mendatang.

“Masa penahanan mereka 20 hari, jadi kami harus upayakan secepatnya agar kasus ini bisa dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Nabire, dan mereka bisa jalani persidangan”, tuturnya.

Dijelaskan, para tersangka terancam pasal 122 huruf A UU no 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian yakni penyalahgunaan izin tinggal dengan melakukan kegiatan bekerja dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun.

Ketika ditanyakan jika sudah ada putusan Pengadilan Negeri Nabire, dimana ke -21 WNA tersebut akan menjalani tahanannya, Kasi Pidum menjelaskan bahwa mereka akan ditahan di Nabire. Namun jika di kemudian hari ada permintaan dari pihak kedutaan mereka terkait pemindahan tempat penahanan mereka, tidak menutup kemungkinan mereka bisa dipindahkan.

Seperti diketahui, ke -21 WNA tersebut menyalahgunakan visanya sebagaimana diatur dalam Pasal 122 huruf a UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Adapun tersangka terdiri dari 4 (empat) warga negara Jepang dengan inisial (TH, KI, YT, HK), 1 (satu) warga negara Korea Selatan dengan inisial (GSY), dan 16 (enam belas) orang warga Negara Tiongkok dengan inisial (TG, LY, WJ, LY, LS, LC, WJ, OW, GX, WX, YE, LX, ZS, WY, MJ, HY).

Puluhan WNA Tiongkok tersebut bekerja pada dua lokasi perusahaan tambang emas rakyat. Ada yang bertugas mengoperasikan alat berat, sopir truk, operator peralatan untuk pemurnian emas. Bahkan ada satu perempuan bertugas sebagai juru masak dan dua orang bertugas sebagai penerjemah bahasa.

Dua lokasi pertambangan emas rakyat di wilayah Lagari, Nabire tersebut juga diketahui menjalin kerja sama usaha dengan 12 perusahaan tambang.

Keberadaan puluhan WNA Tiongkok yang bekerja sebagai buruh di dua perusahaan tambang emas rakyat di Lagari, Nabire diduga melanggar aturan keimigrasian lantaran mereka menggunakan visa kunjungan sebagai wisatawan untuk bekerja.

[Nabire.Net]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *