Bentrok Pendulang Emas di Freeport, Situasi Mencekam

Ratusan pendulang emas tradisional dievakuasi ke Timika dari lokasi Kali Kabur (Sungai Aijkwa) menyusul pertikaian antara dua kelompok pendulang di wilayah itu yang menewaskan seorang warga dan melukai empat warga lainnya pada Jumat (15/03/2013).

Evakuasi ratusan pendulang tersebut menggunakan sejumlah bus milik PT Freeport Indonesia, mobil Pengendali Massa (Dalmas) Polres Mimika dan sejumlah truk milik TNI. Mereka dievakuasi ke berbagai tempat di Timika.

Sementara itu pada Sabtu pagi tadi, sekelompok warga pendulang Suku Damal menyerang kelompok pendulang lain di Mil 34. Penyerangan itu dipicu oleh penganiayaan terhadap Etan Mom (19) oleh warga Kei pada hari Jum’at.

Masih pada Sabtu pagi, polisi menemukan dua jenazah di dua lokasi berbeda. Kedua jenazah tersebut yakni atas nama Etimus Mom (warga Damal) dan Rizal (warga Buton). Etimus Mom ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Mil 34 dengan kondisi terkena luka bacokan senjata tajam pada bagian pundak kanan dan leher bagian belakang.

Sedangkan, Rizal meninggal akibat dipanah oleh sekelompok orang yang belum diketahui. Tubuh lelaki yang berprofesi sebagai tukang parkir di Mil 32 itu terlihat masih tertancap lima busur anak panah. Jenazah Etimus Mom langsung dibawa ke rumahnya di Kelurahan Harapan, Distrik Kwamki Narama. Sedangkan jenazah Rizal sempat dievakuasi ke RSUD Mimika untuk dilakukan otopsi.

Hingga Sabtu siang, situasi di sekitar tanggul pengendapan tailing PT Freeport masih mencekam. Para pendulang masih terus dievakuasi ke Timika untuk menghindari terjadi bentrok susulan. Sementara ratusan aparat gabungan Polri dan TNI masih disiagakan di lokasi pendulangan Mil 34 guna mencegah bentrok susulan antar para pendulang tradisional

Sejak masuknya PT. Freeport Indonesia pada tahun 1930an sampai saat ini belum pernah diselesaikan masalah, PT. Freeport yang raksasa ini, sedang menghabiskan Rakyat West Papua, Ribuan rakyat melayang nyawa tak berdosa melayang. Kali ini bentrok yang dipicu masalah kamp tempat/lokasi  pedulangan oleh masayarakat  di Area Kerja  PT. Freeport Indonesia kembali terjadi antara suku Key Pendatang Luar Papua dengan Orang Pribumi Damal Amungme.

Kronologis.

Hari jumat 15/03/2013.jam 02: 00, WIT ( Siang)  Di Mile 34  Area Freeport  yang  dipingir sungai Limbah yang di jadikan tempat dulang salah satu kamp milik suku key di masuki oleh perampok, dan mereka kehilangan barang-barang mereka dan waktu itu suku key yang tinggal di kamp  itu tidak terima dengan kejadian itu dan mereka sedang  marah bercampur emosi dan jaga-jaga, tidak lama kemudian  ada tiga orang yang sering berburu dalam hutan, tiga orang ini atas nama. Atinus Mom, Doni Hagabal, Tekau Mom, kebetulan mereka sedang lewat di depan mereka langsung tanpa tanya suku key yang ada disitu langsung melakukan  penyerangan dengan parang langsung mengenai Doni Hagabal tubuh dan rusuk kanan terpotong Doni lari mau meloloskan diri tetapi dipotong lagi tubuh bagian kiri karena badan Doni kekar dia masih lari sampai lolos, Atimus Mom mau membela diri dengan busur dan panah tetapi suku key menyerang duluan dan potong panah dan  potong leher dan bahu kanan sehingga langsung tewas di Tempat, Tekau Mom di kejar samapi dia lari dan masuk di sungai Limbah dan terhanyut samapai ada orang yang menyelamatkan Dia. Mayat Atinus Mom baru di serahkan ke keluarga Elminus Mom,  hari Sabtu  tanggal 16/03/2013 Siang.

Nama-Nama Korban Pembantaian Suku Key

  1. Atinus Mom Tewas di Tempat dengan luka potong di Bagian Leher dan bahu kanan.

  2. Doni Hagabal, luka potong bagian tubuh kanan dan kiri lapis dengan tulang rusuk masih koma di rumah sakit. Caritas di Timika.

  3. Tekau Mom luka potong di tanggan masih di rawat di rumah.

KNPB Mimika telah mengikuti dan memantau situasi ini dan menyimpulkan Masalah yang terjadi antara suku Key dan Suku Damal  ini, hanya gara-gara dulang ampas Emas nyawa manusia jadi korban , PT. Freeport perusahan Raksasa milik Amerika ini,membiarkan masyarakat Pribumi untuk dulang dipingir-pingir sungai Limbah Freeport  sampai korban banyak yang kena kimia, penyakit Paru-paru dan banyak yang mati.  Perintah Indonesia mebiarkan masyarakat ini mendulang di Area PT. Freeport.  Tetapi sebenarnya Situasi ini sedang mengarah pada genosida, dan Penguasa Indonesia maupun korporasi milik AS yang ada diatas tanah Amungsa sengaja membiarkan genosida di Timika, Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *